Panglima perang gagah nan perkasa menunggangi kuda tak henti-henti memimpin pasukannya. Menembus hawa panas mendidih bak lahar mengamuk dari rongga gunung merapi. Di tengah debu yang yang beterbangan dipelupuk mata. Aroma kematian menari-nari kejam dan bengis seakan dalam hitungan detik bisa merampas jiwa. Hunusan pedang merobek dada berkilauan laksana semburan percikan api. Bau amis darah tercium seketika. Padang pasir gersang nun tandus menjadi lautan merah berbau amis. Panas matahari melelehkan peluh. Membakar jiwa-jiwa patriot. Padang pasir menjadi saksi bisu sebuah war victory.
Di tempat yang sama aku ikut andil menjadi pasukan mengais dan bermimpi mencicipi manisnya kemenangan. Berbeda memang dengan perang yang dulu menjadi santapan berbagai dinasti dan kerajaan. Kali ini medan perang telah berubah menjadi beton-beton kokoh. Senjatapun hanya secarik kertas dan sebilah pedang tinta. Berakit-rakit kehulu berenang ketepian bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Hidup adalah perjuangan. Tidak akan sampai ke tempat tujuan sebuah kapal apabila berlayar didaratan. Sebesar usahamu sebesar itulah yang akan kau dapatkan. Pepatah, kata mutiara dan kata motivasi berjalan-jalan di ubun-ubunku semalam suntuk. Memaksaku melahap buku-bukumuqorrar ujian terakhirku.
***
“Fang! BANGUN BANGUUUUN!” teriak Ulin sambil mendorong tubuhku . Suara itu dan goyangan ditubuhku membuyarkan mimpi singkat – entah indah atau buruk- aku tak ingat lagi. Jam tangan digital menunjukkan angka lima. Sadar akan materi ujian yang belum selesei kubaca. Buru-buru kudorong punggungku menggeser meja pengganti ranjang malam ini.
Buku-buku masih tercecer beserakan di atas meja coklat bujur sangkar bersanding serasi dengan setengah gelas kopi capucinno sisa semalam. Pemandangan pertama ketika aku membuka berat kedua kelopak mata. Kepala, leher dan badan ikut berkompromi memberiku rasa sakit.
“Bang, kau berbuat semena-mena malam tadi, hardik mereka.
“Maafkan aku kawan! karena aku tak sengaja tertidur semalam” jawabku mencoba bernegosiasi dengan mereka. Ah, aku mulai gila bernegosiasi dengan ragaku sendiri. Memang meja belajar bukan tempat yang tepat untuk dijadikan kasur seperti perlakuanku malam tadi.
Ternyata negosiasi itu berhasil. Ku langkahkan kaki gontai meraih handuk. Cuaca dingin tak memungkinkanku untuk mandi dengan air dingin. Tak mungkin rasanya aku menyiksa anggota tubuhku lagi dengan membiarkannya tersiksa menggigil menahan dingin. Aliran air panas Sakhonah tua memang telah mencapai masa monopouse untuk sekedar berjalan sejauh 5 meter mengaliri bath tub. Terpaksa aku raih ember untuk memindahkan air panas yang masih mengalir di westafle dapur ke bath tub.
“Aku sudah siapkan sarapan, makan dulu kita gan sebelum bertempur hari ini! Saran Ulin.
“Siaaap mas ulin”, jawabku sambil mengacungkan dua jempol tangan.
Ulin itulah sapaannya. Sok-manis, berkulit sawo mentah-hitam tepatnya-, gayanya tengil, lengkap dengan rambut kribo. Sahabat terbaik dari semarang sekaligus teman sekamar selama setahun perjalananku di kota Kairo nun jauh dari kotaku – Bandung – terpisahkan samudera dan benua. Dia dapat julukan Ulinel Messi karena goyangan kakinya memainkan si bola bundar. Hanya beda tipislah dengan idolanya – Lionel Messi- kata dia sih. Bukan itu saja goyangan tangannya diatas wajan juga tak mau kalah dengan kakinya. Wajar saja setiap kali dia dapat jadwal masak tak ada teman rumahku melewatkan masakannya. Di atas wajan dia bak chep restoran hotel bintang 5. Di lapangan hijau seperti pemain terbaik dunia saat ini.
***
Hembusan angin pagi mengibas-ngibaskan rambut lurusku yang panjang ketika di ambang pintu flat aku berjongkok memasang sepatu fantopel hitam. Model rambut seperti ini menjadi favoritku melewati musim dingin. Musim panas selalu ku pangkas tipis dengan model jadul ala tin-tin. Sepanjang jalan menuju mahattahbis, gedung-gedung kubus tinggi menjulang tersusun rapi di sebelah kanan dan gedung pertokoan mirip ruko berbanding terbalik dengan gedung didepannya menyungging senyum mendoakan langkahku yang tergesa-gesa.
“Fang tunggu gue donk”! Teriak ulin berlari tanggung menenteng tas biru tua-merah bergaris lurus kesayangannya bertuliskan Barcelona.
“Males ah nungguin lo, kejar gue kalo mau bareng” sahutku sembari tertawa lalu mengambil langkah seribu menjauhinya. "Ku kerjain kau" bisikku.
Dia terengah-rengah mendekatiku di dekat mahattah bis. Kehabisan nafas. Mencengkram tas pungung hitamku. Melotot tajam dengan sedikit kebencian. Aku hanya tertawa menutup mulut.
Dia terengah-rengah mendekatiku di dekat mahattah bis. Kehabisan nafas. Mencengkram tas pungung hitamku. Melotot tajam dengan sedikit kebencian. Aku hanya tertawa menutup mulut.
Bis merah bertuliskan angka delapan puluh dicoret tiba di mahattah gamie tempat kami berdiri menunggunya selama hampir 15 menit. Bis itu selalu setia menjadi jemputan membawa raga menuju medan perang sekaligus teman sejati kami.
Seperti hari yang sudah-sudah. Jarang sekali kami mendapatkan tempat duduk. Bergelantungan dalam bis adalah keahlianku yang baru terasah sepanjang tahun ini. Bayangkan gan! Setiap hari – kecuali hari jum’at – jika hendak ke kampus aku harus berdiri berdesak-desakan dengan penumpang lain yang berpostur tinggi. Jauh dari posturku yang mungil. Tinggi 160 cm. Berat 50 kg. Prediksiku sampai tahun 2020 akan tetap seperti ini kalo misalkan aku masih disini.
“Ah, aku ingin cepat lulus dan pulang,lin” teriakku tepat di daun telinganya.
“Gue bukan liliput kaya lo, fang” Jawabnya dengan tersenyum puas. Yang aku sangsikan gayanya ngomong gue-lo seperti anak betawi “aje” padahal medok nya stadium akhir. Kadang aku pun ikut juga memakai gaya bahasa gaul itu dan untungnya cengkok sunda-ku masih stadium satu.
“Untung saja sekarang musim dingin,ya mas bro. Coba kalo musim panas, pasti tangan kiriku menutup hidung selama perjalanan satu jam ke kampus. Melindungi hidungku dari aroma tak ber-pri-kesehatan dari bau badan orang hitam dan orang mesir”, bisikku.
Lirikan tajam dan gerakan alis ke atas satu kali jawabannya. Aku paham maksudnya.
“mereka kan gak ngerti lin, santai aja kali” bela-ku. “Bukan maksud untuk menghina, atau ngomogin orang maksud hati hanya ingin jujur saja. Kan bohong itu dosa, gan” lanjutku menyungging sedikit senyuman meminta persetujuannya.
***
Semburat mentari pagi menerobos gedung-gedung di tepi jalan membentuk siluet indah, apik dan rapi berkelebatan dijalan raya terpotong hantaman mobil yang lalu lalang. Memberi sepotong kehangatan padaku saat berjalan memasuki pelataran masjid. Masjid ini menjadi tempat favoritku sebelum memasuki medan perang bersenjatakan pena di ruang ujian.
Perpaduan antara kemegahan dan seni tercipta dalam mesjid ini. Mesjid Al-Azhar ialah mesjid yang ku gosip-kan kali ini. Mesjid pertama yang didirikan Daulah Fathimiyyah di Kairo – kota seribu menara- oleh Panglima perang Jauhar Ashiqliatas perintah. Selesei dibangun tahun 972 M. Cikal bakal dari Universitas Al-Azhar. Terinspirasi dari kata Az-zahra ( yang besinar). Tak salah memang namanya seperti itu karena berbanding lurus dengan pengaruhnya terhadap keilmuan yang dapat menyinari dunia khususnya dunia Islam melalui peran ulama jebolan universitas Al-Azhar.
Kumasuki aula mesjid berlantai marmer, beratapkan langit biru sedikit berawan memantulkan sinar matahari pagi. Aroma ketenangan, keharmonisan dan kehangatan merebak mengisi rongga dada.
Senyum merekah terlempar ke arah wajahku ketika ku duduk sila tertunduk khusuk melirik buku-buku yang belum sepenuhnya aku kuasai. “hey, fan!” sapanya. “Aku sudah membuat talhisan dari materi ujian, cobalah ini kau baca” suruhnya dengan menjulurkan tangan kanan berisi secarik kertas ringkasan dan pertanyaan-pertanyan materi ujian hari ini.
“Thanks Za, pas sekali kau beri talhisan ini karena aku belum menguasai materinya” jawabku cepat sambil menyambar 2 lembar kertas itu. Aku percaya secarik kertas itu ampuh. Karena Naza –mahasiswa berkacamata asal Banjarmasin- golongan kutu buku dan aktifis kuliah. Tergesa-gesa mataku bekerjasama dengan otak kanan menghapal guratan-guratan pena itu. Semangat 45. Balasan Sistem Belajar Kebut Semalam. Serius. “Satu jam lagi sisa waktuku” bentakku dalam hati. Puas ku lahap materi itu. Kulipat kertas putih itu dan kumasukkan saku celana jeans biru yang ku pakai.
Aula besar berderet meja panjang beruluk-salam menyambutku. Peperangan terakhir. Senyumku sumringah tak terbayangkan karena selepas hari ini tak perlu kuhabiskan hari-hari bersama materi yang bertumpuk-tumpuk. Aku bebas.
“Ma’annajah fan, good luck” celetuk ulin memegang pundakku. Lalu dia menduduki nomor ujian di deretan bangku terdepan.
“Yoi, Mas bro” jawabku mengedipkan mata kanan menjauhinya menuju barisan tengah.
Ustadz Duktur Sya’ban tiba. Dosen kami sekaligus pengawas. Memakai kacamata klasik, jenggot dan kumis serasi dengan wajah tambunnya. Perutnya sedikit cembung. Kejam dan tak berpri-kependidikan. Bertangan dingin. Berwatak keras. Tegas tapi mungkin sebenarnya dia berhati baik dan mulia. Mungkin dia ingin menelurkan mahasiswa terbaik.
Tanpa basa-basi dia membagikan kertas ujian dan jawaban. Lirikan matanya tajam menerawang gerak-gerik kami. Braak!!! Suara hentakan tangannya memecah keheningan.
Akfilil kitab, wijma’ (tutup buku dan kumpulkan)!”, teriaknya mendengingkan telinga. “sudah ku bilang berkali-kali, masuk ruang ujian berarti ujian. Tak ada buku tak ada suara dan tak ada pertanyaan”. Sangat kejam memang.
Beberapa mahasiswa tergesa-gesa mengikuti instruksinya. Kalau tidak, urusan bisa panjang. Instruksi lain dia lantangkan yang sebenarnya kita sudah tahu karena tiap hari sebelum ujian dia katakan.
Tiga puluh menit berlalu. Wajahku sumringah mengisi 4 buah pertanyaan essay beranak-cucu. Apa yang telah ku pelajari serasi dengan soal. “aih, indah nian soal ujian ini. Pasti nilai mumtaz akan ku genggam” khayalku.
“I wanna wake up right now………..” lagu Akon -ringtone kesukaanku- menyadarkan khayalku dan membuat singa padang pasir terbangun lalu menoleh ke arahku. Aku baru hampir menjawab soal no.3. Beberapa mahasiswa dari Malaysia, Thailand dan Turki disebelahku ikut melirik. Aku lupa mematikkan Handphone. Aku pasrah. Siap diterkam tapi aku sudah biasa menghadapinya. Paling aku disemprot berkali. Dengan jurus manggut-manggut tunduk, masalah akan beres. Secepat singa, dia sudah berdiri dihadapanku siap memangsa. “Sudah ku katakanan matikan hp. Simpan ditas” matanya melotot tajam. “keluarkan hp-mu!”. Ma’alaish ya ustadz, Ana Nisyan ( Maaf, saya lupa ustadz)”belaku sambil merogoh saku celana. “cring-cring” receh satu pound dan nush geneh (setengah pound) jatuh diikuti secarik kertas warna putih.
Dia membungkuk meraih secarik kertas itu. “Eh da?”tanyanya menyelidik. “itu ringkasan materi dan pertanyaan, pak” jawabku. "Jangan bohong kamu" suaranya melengking. Tangannya menarik kejam kemeja putihku. Satu kancing atas terlepas. Cengkraman tangannya kuat. Aku terpengap-pengap kehabisan napas. Dia tak hiraukan. "Wallahi ustadz, ini hanya ringkasan materi yang tadi aku pelajari. aku tidak melihatnya waktu ujian sedetikpun". Dia hanya melotot menggusurku, "ikut aku ke depan" hardiknya dengan nada tinggi.
Dia berjalan ke depan auditorium mengambil secarik kertas itu ke “meja hijau”nya. Mangsanya –aku- tergusur lesu dibelakangnya. Tertunduk. Pasrah. Penjelasan seorang terdakwa tanpa pembela ditolak mentah-mentah olehnya, yang berperan sebagai jaksa penuntut umum sekaligus hakim. Pengadilan memutuskan aku di diskualifikasi dari ruang ujian hari ini. Sangat tidak berpri-kehukuman. "Tak adil" gumamku.
Dia berjalan ke depan auditorium mengambil secarik kertas itu ke “meja hijau”nya. Mangsanya –aku- tergusur lesu dibelakangnya. Tertunduk. Pasrah. Penjelasan seorang terdakwa tanpa pembela ditolak mentah-mentah olehnya, yang berperan sebagai jaksa penuntut umum sekaligus hakim. Pengadilan memutuskan aku di diskualifikasi dari ruang ujian hari ini. Sangat tidak berpri-kehukuman. "Tak adil" gumamku.
Catatan Pertama: Kunci sukses ujian; matikan handphone dan kosongkan saku celana.
Aku berbalik. Mengambil tas. Ulin menatapku nanar, kasihan dan mungkin juga senang karena tadi aku usil terhadapnya. Langkahku gontai keluar auditorium. Lesu tak bergairah. Gerakan perputaran bumi tak beraturan. Aku kalah sebelum peperangan usai. Aku tidak mencontek, aku tidak curang , aku jujur, aku berjuang semalam suntuk belajar” teriak batinku. Kenapa hari ini? kenapa di Mesir? Kenapa tidak dulu waktu SMP dan SMA yang jelas-jelas aku sering membuat note di telpon genggam atau sms jawaban dari teman.
Bayangan aku mencicipi manisnya kemenangan musnah. Pudar. Aku duduk lunglai di taman kampus. Suasana sore itu terasa hampa. Aku tereliminasi di babak terakhir. Mengecewakan dan menyedihkan. Bayangan buruk berkelebatan diatas kepala. Aura postifnya datang juga yaitu bayangan menjadi mahasiswa abadi, bertahun-tahun tidak lulus, menjual tempe dan biografiku di film-kan. “Ah, tapi itu kan mas azzam KCB bukan aku yang orang biasa” omongku sendiri. Tanda awal penyakit gila datang. Berbicara sendiri. Berbahaya. Aku benamkan punggungku. Aku terlentang menengadah ke langit biru yang bisu. Tak ada teman. Tak ada seorang pun mengerti apa yang sedang ku rasakan.
“Ayo Pang pulang, aku dah beres ujiannya!”, suara Ulin membuyarkan lamunanku.
“Santai saja, kau masih punya kesempatan kalau gak lulus satu maddah doank”.
“Lupain yang telah lalu, kita istirahat. Besok kita bergoyang di Sungai Nil untuk refreshing”.
Sontak tawaran itu membuat sunggingan senyum merekah perlahan. Benar kata Ulin, aku masih bisa lulus naik tingkat. “Ah, yang penting besok jalan-jalan melepaskan beban dan penat” fikirku. Aku merangkul pundaknya tersenyum. Anggukan dahi ke atas mengajak pulang. Berjalan bergandengan melewat pagar tinggi menjulang bertuliskan Al-Azhar. Bersiul sepanjang jalan dan gerakan kami serasi menuju halte bis.


2 komentar:
gaya berceritanya apik :) ajarin donk :) hehe
bingung mau komentar apa sekilas nampak seprti curhatan yang di buat menyerupai cerita novel fiksi :) smngat blajarnya mas ifan :)
salam hangat (salam knal )
makasih semangatnya
biasa baru belajar nulis mas joni...
silahkan kritik aja mas
pedas jga gak papa hahah cz masih newbie hehe
Posting Komentar