Selasa, 19 Juli 2011

Novel itu

Satu tahun enam bulan sudah aku berpijak di benua afrika yang gersang ini. Tepatnya di Mesir. Menyelami keindahan dan kebudayaan bumi kinanah ini merupakan berkah tak terhingga. Karena aku hanya orang udik di daerah pedalaman Sukabumi. Daerah Sagaranten tepatnya melewati daerah jampang kulon yang berjarak 70 km dari pusat kota. Selama di Mesir telah aku lalui suka dan duka. Menjadi saksi hidup pergolakan revolusi Mesir juga menjadi bumbu masa-masaku kini. Semua ini berawal dari  buku. Novel tetralogi karya Andrea Hirata sumber inspirasiku.

Sebelumnya aku tak pernah menoleh pada sebuah novel apalagi sampai khatam membaca. Tapi novel pertama Laskar Pelangi merubah segalanya. Aku khatamkan hanya dalam waktu sehari. Luar biasa. Aku membacanya penuh emosional dan ketagihan. Kadang aku berlinang airmata saat emosiku hanyut terbawa novel itu. Adakala juga aku terbahak melihat kekocakan tokoh-tokoh di dalamnya. Novel-novel selanjutnya aku lahap dalam tempo kurang dari satu minggu. Semua itu terjadi di awal tahun 2009. Saat liburan semester ganjil ketika aku masih kuliah di salahsatu perguruan tinggi negeri di Bandung mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Disela-sela liburan sahabatku meminjamkan novel-novel itu. Perubahan besar menjadi berkah bagiku. Antusiasku terhadap berbagai jenis buku meningkat tajam. Novel itu laksana obat penambah selera makan saja. Rasa pesimis berbalik menjadi optimis. Aku mulai berani kembali untuk bermimpi. Setelah dua tahun aku mengubur mimpi-mimpiku, karena beberapa kegagalan.

Tahun 2006 aku memperoleh kelulusan dari salah satu SMA Islamic Boarding School di Jawa Timur dengan hasilexcellent. Waktu itu aku bermimpi berkuliah di luarnegeri. Karena basic pendidikan Islam maka aku memutuskan ikut ujian ke Mesir. Hasilnya aku gagal. Tahun 2007 aku kembali meng-apply persyaratan kuliah di luar. Kali ini aku memilih Ekonomi Islam di IIUM Malaysia. Karena ada rekan ayahku disana sedang menyelesainkan program doktoral. Aku kembali gagal. Akhirnya bendera putih berkibaran. Aku menyerah kuliah abroad. Bandung menjadi pilihanku di tahun 2008. Aku melalui masa kuliah tanpa mimpi. Hanya mengerjakan rutinitas yang tak menantang dan hanya ingin mendapatkan nilai lalu memperoleh gelar Strata I. Lalu novel itu merubah segalanya. Aku kembali menata cita dan asa masa lalu.

Cita dan asa itu ialah SD di kampung, SMP di kota, SMA di luar provinsi dan kuliah di luar negeri.
Selama masa semangat itu, aku menjalani dua rutinitas; melanjutkan kuliah semester dua dengan sungguh-sungguh karena mungkin saja aku tidak lulus lagi dan mempersiapkan ujian ke Mesir. Tak terasa Ujian Akhir Semester telah selesai aku lalui dan masuk masa liburan. Fokus waktu itu terpusat kepada ujian Mesir.  Aku hafalkan Qur'an tiap hari. Aku asah bahasa Arabku di sebuah tempat kursus daerah Bandung Timur.  Aku ikut berbagai try out yang diadakan beberapa broker perantara pengiriman mahasiswa Timur Tengah. Selama sebulan lebih aku terkurung dalam aktifitas itu. Sangat membosankan. Tapi aku mengingat lagi kisah Andrea dalam novelnya. Aku kembali bersemangat.

Sebuah pengumuman di website departemen agama menyebutkan ujian diadakan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk daerah Jawabarat. Perjuanganku berakhir di sebuah auditorium UIN. Ujian diadakan satu hari. Pertama Ujian Tulis pada pagi hari dan ujian lisan siang hari. Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim aku masuki ruangan itu. Pada hari itu sudah penuh dengan ratusan pemuda pemudi yang ikut memperebutkan tiket kuliah di Mesir. Sedangkan di daerah lain masih terdapat ribuan orang mengais mimpi yang sama.

Hasil kelulusan ujian diumumkan sebulan setelah itu. Aku menunggu. Perkuliahan semester tiga dimulai dan harus registrasi ulang,  sedangkan pengumuman masih sekitar tiga minggu lagi. Atas saran ayah aku akhirnya membayar registrasi ulang. Selang beberapa hari nilai semua mata kuliah keluar. Aku heran sekaligus kaget. Dari semua mata kuliah hanya satu yang bernilai B selain itu A.  Padahal semester satu tak ada satupun nilai A aku peroleh. Semua ini karena novel itu pikirku. Antusias baca dan semangat kuncinya. Sepekan kemudian pengumuman DEPAG termuat di websitenya. Nama Muhammad Irfan tertera dalam daftar kelulusan. Akhirnya mimpi itu jadi kenyataan. Bahagia sekaligus bimbang. Bahagia karena lulus dan bimbang apakah aku harus meng-apply dokumen atau melanjutkan kuliah di Bandung yang sudah masuk semester 3. Sedangkan kalau aku berangkat ke Mesir beresiko memperoleh gelar sarjana lebih lama karena sudah dipastikan aku harus ikut kuliah persiapan bahasa selama satu tahun.

Setelah seminggu dalam kebimbangan aku teringat kata pak Balia dalam novel Sang Pemimpi: "Jelajahi kemegahan Eropa dan Afrika yang eksotis". Aku termotivasi kembali walaupun berbanding terbalik dengan kata pak Balia tadi. Aku menjelajah Afrika terlebih dahulu. Kemudian aku kembali bermimpi setelah selesei Sarjana akan aku jelajahi Eropa. Akhirnya aku memutuskan berangkat. Walaupun kemungkinan gelar sarjana kuraih 5 tahun lagi. "Kesempatan tak datang dua kali" tegasku.

Akhir desember aku berpamitan dengan kawan-kawan kuliah. Tepat ketika Ujian Akhir Semester ganjil. Mereka kaget sekaligus terharu karena selama ini aku tidak pernah memberitahu mereka. Semua dokumen telah lengkap dan tiket sudah di tangan. Tanggal 25 Desember 2009 akhirnya aku meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta menuju Cairo. Berpisah dengan keluarga untuk menggapai cita, asa dan mimpi.
Tahun 2010 aku mulai menjelajahi Mesir. Walaupun baru beberapa objek wisata yang telah aku dokumentasikan. Diantaranya Piramida, Pegunungan Sinai dan Oase Siwa berbatasan dengan Libya.


13060529631631477617

3 komentar:

Anonim mengatakan...

subhanalloh.. aku salut sama a irfan.. :)
aku baca tulisan aa ini, semangat ku jadi bangkit kembali. jujur, aku bukan orang yg mudah bermimpi tinggi. aku selalu merasa takut untuk bermimpi tinggi. tapi, setelah aku baca tulisan ini aku jadi terpacu untuk menggapai mimpiku, dan bermimpi lebih dalam lagi serta meraihnya. :)
#ayo a sama2 kita raih mimpi kita masing2! hehe :p
^EgaGumilar^

Sutisna mengatakan...

In few years, im gonna be like you kang. Trus cerita bisa sampe nyakngkut di dai muda pilihan kumaha eta teh? Kuliahna gmna skrng?

Meilani Nurajizah mengatakan...

itu beasiswa atau apa kak? :)

Posting Komentar