Tulisanku

Selasa, 17 Mei 2011

Hari-hariku terpenjara di Kairo

Tanggal 24 Januari  2011
Hari kebebasanku, bagaimana enggak selama sebulan lebih aku disini memusatkan konsentrasi kepada buku-buku pelajaran untuk ujian term pertama di Universitas Al-Azhar yang sangat menguras fikiran dan energi.
Rasa sesak, kepenatan, stress dan beban hilang dengan selesainya masa-masa ujianku yang pertama di Universitas Al-Azhar.
Berbagai rencana menyenangkan sudah berkeliaran dalan fikiranku. Melepaskan penat dengan berlibur. Rute perjalanan telah ku susun rapi, yang masih saya ingat sampai sekarang :
1.      Rute pertama, Perjalanan ke Giza untuk mengunjungi Pyramid
2.      Rute kedua, Kota Mansouro ( salah satu tempat terjadinya perang Salib yang dipimpin Salahuddin el Ayyubi)
3.      Rute ketiga, Kota Thanta
4.      Rute keempat, Kota Zagazig
5.      Rute kelima,  menyelami keindahan Alexandria
Itulah rencana yang akan aku dan sahabat-sahabatku persiapkan lengkap dengan biaya, peta dan jalur transportasi yang harus dilalui.
* * *
Tanggal 25 Januari 2011,  
Terdengar kabar adanya kumpulan massa berdemontrasi di Tahrir.  Ketika itu aku berada di rumah teman kawasan Tagamu Awal – daerah kairo baru -  melepaskan penat membuat liga kecil  PES 2011 dan bermain kartu poker.  Esok harinya merupakan jadwal mingguan latihan basket di Nadi Central Zahro -salah satu lapangan basket sewaan yang menjadi tempat favorit mahasiswa Indonesia dikawasan Nasr City yang merupakan kawasan terbanyak yang menjadi tempat domisili mahasiswa Indonesia, sambil sesekali melepaskan gelak tawa dalam obrolan ketika berkumpul setelah latihan. Dan ternyata hari jum’at itu hari terakhir kami merasakan kebebasan dalam kota Cairo.
* * *
Tanggal 27 Januari 2011,
Aku tak menyangka demontrasi akan berlangsung terus-menerus dan meningkat.  Keamanan mulai tak terkendali, malam hari mulai mencekam dan jam malam mulai diberlakukan mulai jam 4 sore sampai jam 8 pagi, Inilah awal penjara bagiku. Koneksi internet diputus oleh pemerintah dan koneksi telepon pun ikut di bui.  Aku tak bisa melakukan kegiatan apa-apa dan tak bisa mendapatkan informasi dari Mesir ataupun keluarga di Indonesia.
Kebutuhan makanan sulit karena toko-toko banyak yang tutup, dan kalaupun buka hanya beberapa jam saja di siang hari mulai jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Itupun harus antri dan harga meningkat.Ditambah transportasi yang lumpuh total sehingga mahasiswa sulit untuk mencari informasi entah itu ke teman ataupun Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cairo.Mahasiswa tidak dapat mengambil uang di berbai ATM karena dirusak dan sebagian tutup sehingga menambah penderitaan kami yang kebetulan hal ini terjadi di bulan tua.
Kehidupanku terkotak di dalam sebuah rumah yang terdiri dari 2 kamar, dapur, kamar mandi dan ruang tamu yang dihuni 4 orang mahasiswa Indonesia. Aku, Naza, Ulin dan Ical.
Sesekali aku keluar rumah pada siang hari untuk membeli kebutuhan pangan. Udara dingin Cairo dan suasana mencekam kurasakan ketika hentakan kaki pertama dari ambang pintu rumah kontrakanku.
Pemandangan pertama yang kulihat adalah beberapa pemuda membawa tongkat besi, pisau, pedang, samurai bahkan senjata api. Siapa yang tidak takut dengan pemandangan seperti ini?  sesekali ku pandangi wajah mereka tapi ketika mereka memalingkan wajah ke arahku, ku palingkan wajahku secepat mungkin diiringi getaran ketakutan di dada.
Ku lihat suasana kota mati di wilayah rumahku yaitu Mahattah Gamie-Nasr City, yang pada hari-hari  sebelumnya merupakan kawasan ramai oleh warga yang berlalu lalang dan juga kawasan syuting Ketika Cinta Bertasbih I bagian scene ( Azzam naik taksi mengejar buku Anna Althofunnisa yang tertinggal di Bis dan ketika menabrak tomat di toko sayur) , itulah kawasan rumahku yang sebenarnya jauh dari pusat titik demonstrasi di kawasan Tahrir dan Ramses.
Ketika sampai di Thariq er Rayis (Jalan Raya; dalam bahasa Arab-Mesir) aku tak melihat lalu-lintas seperti biasanya,  padahal harusnya wilayah ini macet karena wilayah itu merupakan Syuq es Sayaroh(Pasar Mobil) yang merupakan pasar mobil terbesar di dunia (red.TVone).  Yang aku lihat hanya beberapa mobil pribadi dan Ugroh (Taxi) dan beberapa Iring-Iringan Tank baja El-Quwaah el Musalahah (Pasukan Bersenjata Mesir) di sisi lain. Itulah suasana yang terlihat di kawasanku ketika ku memberanikan diri keluar dari penjara padahal  hanya sebatas membeli pulsa dan makanan.
Suatu ketika aku  hendak membayar beberapa belanjaan ternyata uang yang ku genggam tidak cukup membeli barang-barang  yang ku inginkan padahal sebelumnya ku telah memperhitungkan jumlah keseluruhan belanjaanku itu, ternyata barang-barang mulai melambung.
Sebagai contoh harga Rasyid ay Kart (Pulsa) sebelumnya 10 Pound menjadi 12 Pound sekitar 20 ribu Rupiah. Harga rokok dan kebutuhan lainnya naik antara 25% - 50%.
Sejak hari itu kami seperti berada di wilayah perang, dan merasakan keadaan Indonesia ‘98 ketika reformasi penggulingan Soeharto yang memang sama seperti penguasa Mesir yaitu Hosni Mubarokyang berkuasa lebih dari 30 tahun, tapi ternyata disni lebih dan jauh sangat berbeda dengan Reformasi di Indonesia. Mungkin inilah perbedaan yang saya tahu;
* Kerusuhan disini lebih anarkis dan korban jatuh lebih dari 300 orang dan mungkin akan bertambah seiring bentrokan hari ini antara Kubu Pro Pemerintah dan Anti Pemerintah.
* Hosni Mubarok tak mengangkat wakil presiden selama masa pemerintahannya yang lebih dari 30 thn
* Transportasi dan komunikasi lumpuh
* Kerusuhan dan efeknya terjadi di seluruh Provinsi di Mesir secara merata tidak hanya berpusat di ibukota
* * *
Tanggal  02 Februari 2011, Harapan untuk keluar dari situasi dan penjara ini muncul dalam diri WNI di sini, senyuman dan ucap syukur menyebar diantara kami setelah dipastikan evakuasi dari pemerintah dan hari kemarin sebagian dari WNI telah berpulang ke negeri tercinta Indonesia. Proses evakuasi disini disusun secara prioritas agar tidak terjadi kesemrautan evakuasi dengan jumlah 6.149 orang yang di koordinasi oleh KBRI, PPMI(Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) beserta pengurus Kekeluargaan(Organisasi daerah mahasiswa Indonesia). Prioritas utama adalah wanita hamil dan udzur, anak-anak dan mahasiswi setelah proses evakuasi mereka selesei baru evakuasi selanjutnya untuk mahasiswa.
Hari ini kondisi Mesir semakin kritis, bentrokan fisik terjadi hampir di seluruh penjuru bumi kinanah antara 3 kubu yaitu demonstran pro-mubarok, anti-mubarok dan pasukan militer Mesir dalam bentrokan ini dilaporkan 5oo orang terluka dan satu orang tewas. Menurut Presiden PPMI(Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) yang berkoordinasi dengan KBRI menegaskan bahwa seluruh WNI akan segera dievakuasi menyusul kondisi stabilitas keamanan yang semakin kritis.
Tiga Posko koordinasi pengumpulan WNI berpusat di distrik Nasr City, yaitu di kantor KPMJB(Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat), Konsuler KBRI dan KSW (kekeluargaan Jawa Tengah). Sebagian mahasiwa membantu posko-posko tersebut. Evakuasi selanjutnya menurut rencana akan di laksanakan hari kamis esok.

Senin, 16 Mei 2011

Pesan Andrea dan Adam Smith untuk Indonesia


Sosok Andrea Hirata sebagai  salahsatu novelis terbaik saat ini sudah tak disangsikan lagi. Melalui novel tetraloginya yang berjudul Edensor dia menitipkan pesan untuk Indonesia. Pesan untuk kemajuan dalam bidang ekonomi sekaligus kritikan. Andrea membungkus pesan itu dengan kado yang sangat menarik.
Melalui percakapannya dengan Adam Smith, tepatnya foto ukuran 20R Adam Smith. Kegilaan Andrea yang merupakan kejeniusannya dalam bertutur kata di novelnya terlihat. Dia menitipkan pesan untuk Indonesia dalam dialog imajiner. Berikut ini cuplikan dialog yang Adam tuturkan kepada Andrea ketika Andrea menyatakan bahwa di Indonesia “banyak orang pintar, pintar mencuri uang negara”:
“Apa kataku dulu! apa kata teoriku dulu!benar kan, pengaruh uang tak ubahnya siulan iblis” Adam Smith melanjutkan penjelasannya.
“Kau tahu!? kaum monetarist bersekongkol mengumpulkan uang agar negara seperti kalian berutang, lalu pelan-pelan negeri kalian tergadai. Mereka itu tak ubahnya rentenir! Kolonial model baru! Tukang ijon! Teori mereka….. teori mereka.”
“Teori mereka? Pembangunan ekonomi berdasarkan moneter? omong kosong sama sekali! Keynesians itu turis dalam ilmu ekonomi, lebih cocok kalau mereka dimasukkan ke dalam sel! Uang semuanya uang! Lihatlah akibatnya pada pencuri uang di negerimu!
Adam Smith bersemangat dalam dialog itu, lalu ia meneruskan sedangkan Andrea hanya mengangguk takzim mendengarkannya.
“Proyek fisik! Lapangan kerja! Itulah solusi semua masalah!! selain itu hanya bualan.”

Apa yang dipaparkan Adam Smith sebagai pakar ekonomi sekaligus guru Andrea dalam dialog ini jelas sekali merupakan pemikiran Andrea yang memang belajar ekonomi di Sorbonne. Andrea berhasil menggambarkan situasi ekonomi dengan unik yang sedang melanda Indonesia, menganalisa akar masalahnya dan memberikan solusi. Dapat diambil kesimpulan dari pesan Andrea sebagai berikut:
  1. Indonesia salah mengambil kebijakan ekonomi dengan asas moneter, terbukti dulu bekerjasama dengan IMF.
  2. Asas moneter menimbulkan tindakan korupsi.
  3. Secara tidak sadar Indonesia masih dijajah kaum keynesians alias penganut asas moneter.
  4. Solusi dari masalah ini adalah pengembangan sektor Rill.
  5. Solusi lainnya adalah pembangunan fisik dan menciptkan lapangan kerja.
Andrea sangat cerdik mengirimkan berbagai pesan bagi para pembaca novelnya. Novel tetraloginya banyak memberikan pesan untuk bangsa selain yang terdapat diatas, dia banyak memberi inspirasi bagi anak Indonesia. Mengajarkan cara untuk meraih mimpi dan berjuang demi kemajuan bangsa yang terpuruk ini.

Jumat, 06 Mei 2011

Tahrir Square - Nile River





Catatan ke-2

Freedom

24 Januari 2011

Sinar mentari memantulkan cahaya bening keemasan. Hembusan angin bersyair syahdu nan merdu. Awan berarak tenang. Kicau burung bersautan membuat elegy indah. Sungai Nil mengalir lembut. Daun-daun melambai mesra.

Udara kebebasan memenuhi rongga dadaku hari ini. Walaupun kemarin hasilnya sad ending tapi aku puas. Setelah  satu bulan sesak dijejali rentetan huruf-huruf arab. Pusing. Jenuh. Membosankan. 

Aku hari ini bukan kemarin. Yang lalu biarlah berlalu, saran seorang pujangga. Namaku Muhammad Irfan Al-anshari , panggilanku ipang. Entah kenapa dan asal-muasalnya aku lupa. Mungkin karena aku berbakat menjadi vokalis. Aku hanya orang biasa saja dan masuk kalangan mayoritas bukan minoritas. Biasa belajar kalau ada ujian. Biasa menangis waktu sedih, tertawa ketika senang. Biasa mencontek waktu ujian tapi itu dulu masa SMP dan SMA. Biasa main game. Biasa menghabiskan uang kiriman orangtua. Biasa berjam-jam menyelami dunia maya. Biasa jail dan usil. Biasa pacaran. Biasa menyakiti dan disakiti.Biasa dipuji karena ketampananku, biasa dihina karena postur tubuh. Biasa dan bukan luar biasa. 

Popular Posts

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages