Setelah masa revolusi itu, dan Mesir seperti semula ujian pun tiba. Hari ini ujian lisan pertama aku hadapi. Empat mata kuliah sekaligus. Fokusku terpecah. Jadwal ujian bentrok dengan acara dialog bersama tokoh nasional. Aku ingin bertemu sang idola. Ya beliau ialah Ayahanda Habibie. Kabar kedatangan B.J. Habibie beserta Amien Rais sudah terdengar seantero Masisir(sebutan mahasiswa Indonesia di Mesir) selama sebulan lebih. Aku mengira kedatangan dua tokoh reformasi ini atas undangan KBRI Cairo. Eh ternyata dugaanku meleset. Kedatangannya atas undangan pemerintah Mesir dan Negara Timur Tengah. Dalam forum dialog bertajuk “Internasional Forum on Pathways of Democratic Transitions Internasional Experiences and Lessons Learned”. Ternyata Reformasi Indonesia 1998 masih melekat dibenak para tokoh politik Timur Tengah. Mereka ingin belajar bagaimana mengendalikan pemerintahan pasca reformasi dari dua tokoh Indonesia itu. Pertama dari Presiden waktu itu dan kedua dari tokoh utama reformasi. Tiba-tiba kebanggaanku membuncah menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
Habibie live in Jazeera. Sumber: Indonesian Embassy in Cairo
Tekan tombol play dan dengarkan!
Sholat Ashar di Mesjid Azhar-berlari ke halte bis Darrasah-menunggu setengah jam-naik bis berebutan-aku berdiri bergelantungan seperti biasa tak kebagian tempat duduk-bis meluncur ke daerah Nasr City-turun di daerah Hay Sadis, Elkhaleefa Street-Keringat bercucuran membuat kemeja putihku basah karena cuaca juga sangat panas waktu itu-naik tramko ke daerah Roba’ah el Adwiyyah-pukul 04.30 a.m tiba di seberang Azhar Conference Centre-menyelinap di kerumunan orang-Masuk ke auditorium-Penuh-aku berdiri-dan akhirnya aku melihat sosok mungil berotak raksasa.
Akhirnya aku melihat live sosok idola. Tulisan Indonesia Pasca Reformasi & Peran Lulusan Al-Azhar- Prof.Dr. Ing. BJ. Habibie terpampang di spanduk tepat di atas singgasana si jenius bersanding dengan pak Dubes. Alhamdulillah acara baru beberapa menit dimulai ketika aku datang. Seisi ruangan penuh aku hanya bisa berdiri di deretan paling belakang. Aku keluarkan note kecilku dan mulai menulis.
BJ Habibie bersama Pak fachir Dubes RI untuk Mesir
Spanduk Acara Dialog
Di usia beliau yang memasuki 75 beliau masih bersemangat, masih ceria seperti dulu kala. Lalu beliau bercerita ketika Mesir bertanya; “Bisakah 2020 Mesir maju dan bagaimana caranya?”. Beliau menjawab: Bisa, caranya pertahankan SDM dan kembangkan.
Meningkatkan SDM
Beliau melanjutkan pembicaraan setelah sejenak menyeruput air mineral di atas meja.
“Ada orang yang hidup dalam lingkungan yang sama, tetapi berbeda kualitas. Yang membedakan adalah apakah dia memiliki sinergi positif, ada 3 sinergi positif; Agama (imtaq), budaya dan ilmu pengetahuan“. Penjabarnnya adalah:
1. 1+1+1=3, itu menandakan orang yang normal dan biasa saja.
2. 1+1+1=3000, itulah orang yang berkualitas memiliki sinergi positif memadukan imtaq, budaya dan iptek.
3. 1+1+1= -35, itulah orang minus yang memiliki sinergi negatif.
Ketika dulu saya ditanya: apakah yang kamu pilih diantara imtaq dan iptek? saya menjawab tanpa berfikir lagi “saya memilih imtaq”, dengan imtaq itu akhirnya saya diberika Tuhan sekaligus ilmu pengetahuan yang dahsyat. Suatu momen di acara konferensi internasional organisasi para ilmuan saya sengaja duduk paling depan karena saya yakin akan ditanya. Dan memang benar saya ditanya dimanakah saya waktu organisasi ini didirikan. Saya menjawab bahwa waktu itu saya masih beliau sedang berada di kampung berbalutkan sarung dan mengaji.
Produktifitas Kerja
Acara dilanjutkan dengan dialog. Hal yang penting yang saya catat adalah tentang produktifitas.
Beliau menjadi orang yang produktif karena memiliki tiga sinergi positif di atas. Beliau adalah orang yang bekerja dalam satu jam sama dengan orang lain bekerja selama sebulan. Dunia ini sama, dimanapun kita berada tidak berbeda yang membedakan adalah sinergi positif itu.
Cinta Tanah Air
Pada tahun 1974, pada saat beliau berusia 38 tahun-sepuluh tahun setelah mendapatkan gelar Doktor- beliau diminta Presiden Soeharto berkarya di tanah air. Dikarenakan suatu ketika Soeharto ditantang Amerika yang berkata:”Indonesia tidak akan maju”. Akhirnya dia memanggil Habibie dan berkata:”kamu boleh minta apa saja asalkan jangan revolusi”. Akhirnya beliau pulang walaupun di Jerman sudah mendapatkan zona nyaman, dan berkarya untuk bangsa dan mampu membuktikan bahwa Indonesia mampu membuat pesawat terbang.
Lalu pembicaraan Habibie mengarah ke hadirin di ruangan, ” Anda mahasiswa sini, tugas anda adalah kembalilah ke tanah air dan yakinkan kebenaran kitab suci Al-Quran kepada masyarakat, dari semua segi ibadah juga ilmu pengetahuan di dalamnya”. Seluruh hadirin manggut-manggut mengamini perkataan beliau.
Kesetiaan
Pak Habibie bercerita tentang cinta di akhir acara. Cinta dan Kesetiaan akan seorang istri terhadap suami dan sebaliknya. Ketika dulu beliau dulu belajar maka ibu ainun membaca Al-Quran sehari satu juz, musik yang mengiringi beliau belajar iptek itu adalah Al-Quran. Dan Habibie pun menemani masa sulit ibu ainun sampai akhir hayatnya.
Acara berakhir pada pukul 8.3o p.m. Aku puas, hadirin melakukan standing ovation ketika beliau ber-uluk-salam. Akupun pulang beserta ribuan masisir.
Esok harinya Pak Habibie mengunjungi Wisma Nusantara, sebuah rumah indonesia di jantung kota Cairo yang didirikan pak Habibie. Mengobrol ringan serta melihat beberapa karya masisir yang berada di wisma. Dilanjutkan dengan foto bareng.
Akhirnya aku bisa menatap beliau langsung dua kali; satu jaraknya jauh dan kedua sangat dekat hanya berjarak beberapa meter saja.
Habibie di Wisma Nusantara. Sumber: Indonesian Embassy in Cairo
Foto bareng bersama Idola Masisir. Sangat membanggakan.
Siapa yang mau melawatkan dialog dengan tokoh reformasi bangsa kita ini. Akupun dulu ketika kelas enam SD menyaksikan orasinya langsung bersama ayahku di depan gedung Sate Bandung. Acara bertempat di KBRI kawasan Garden City tanggal 08 Juni 2011. Acara dialog ini ternyata hanya terbatas untuk 300 orang. Aku tidak menghadiri acara ini karena terbatas dan juga bentrok dengan ujian tulis. Aku hanya mendengar cerita tentang dialog ini dari seorang teman yang menghadirinya.Dialog beliau menceritakan pengalaman reformasi Indonesia dan motivasi bagi mahasiswa disini untuk membawa oleh-oleh untuk tanah air ketika kembali. Pemuda adalah tonggak kemajuan bangsa. Amalkanlah ilmu untuk peningkatan SDM bangsa, karena tanpa pengamalan ilmu bagaikan pohon tak berbuah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar