Jumat, 06 Mei 2011

Tahrir Square - Nile River





Catatan ke-2

Freedom

24 Januari 2011

Sinar mentari memantulkan cahaya bening keemasan. Hembusan angin bersyair syahdu nan merdu. Awan berarak tenang. Kicau burung bersautan membuat elegy indah. Sungai Nil mengalir lembut. Daun-daun melambai mesra.

Udara kebebasan memenuhi rongga dadaku hari ini. Walaupun kemarin hasilnya sad ending tapi aku puas. Setelah  satu bulan sesak dijejali rentetan huruf-huruf arab. Pusing. Jenuh. Membosankan. 

Aku hari ini bukan kemarin. Yang lalu biarlah berlalu, saran seorang pujangga. Namaku Muhammad Irfan Al-anshari , panggilanku ipang. Entah kenapa dan asal-muasalnya aku lupa. Mungkin karena aku berbakat menjadi vokalis. Aku hanya orang biasa saja dan masuk kalangan mayoritas bukan minoritas. Biasa belajar kalau ada ujian. Biasa menangis waktu sedih, tertawa ketika senang. Biasa mencontek waktu ujian tapi itu dulu masa SMP dan SMA. Biasa main game. Biasa menghabiskan uang kiriman orangtua. Biasa berjam-jam menyelami dunia maya. Biasa jail dan usil. Biasa pacaran. Biasa menyakiti dan disakiti.Biasa dipuji karena ketampananku, biasa dihina karena postur tubuh. Biasa dan bukan luar biasa. 

Antusiasku memuncak kalau bicara soal ketampanan. Teringat masa keemasan. Tapi itu dulu. Masa Anak Baru Gede alias Abg. Ingatku, ketika naik kelas 3 SMP Negeri 08 Bandung. Senior. Berwibawa. Sok-penguasa. Dari dulu sampai detik ini postur tubuhku stabil. Sebuah pembelaan  yang berarti tidak bertambah tinggi. Waktu itu, tinggi badanku 160 cm, tergolong tinggi seusia smp. Bermodalkan itu ditambah tampan nan rupawan, adik-adik kelas dan teman perempuan satu angkatan tidak ada yang tidak mengenal seorang Revan. Tidak ada juga yang tidak menyukainya. “Hahahaha” aku selalu tertawa mengingat masa keemasan itu. Masa Lalu. Kini hanya tinggal kenangan terhapuskan waktu. Semua berubah. Sekarang, jangankan suka. Mau kenal saja sudah untung. Semua itu berawal dari postur tubuh.

Catatan kedua: Dalam masalah percintaan, Tampan No.2 Postur tubuh No.1

Sebenarnya aku pernah juga menjadi orang luar biasa itupun hanya sesekali. Seingatku, dua kali selama di Kairo yaitu saat aku menjadi pahlawan, membawa nama angkatan mahasiswa baru masuk final kejuaran basket Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia walaupun kandas di final. Dan satu lagi mengangkat tropi setelah menjuarai kejuaran Pro Evolution Soccer 2010 se-mahasiswa Kairo. Cukup membanggakan bagi orang biasa.

            “woy fang, ayo siap-siap sudah sore nih”, teriak ulin dari ambang pintu. Menyela tanganku yang sedang masygul chatting.
            “iyah bentar lin. Tanggung aku lagi asyik ngobrol dengan sahabatku di bandung” jawabku menengadahkan tangan kanan ke atas dengan posisi ujung jemari tangan bersatu. Gaya orang mesir menandakan “harap menunggu”.
            “Ya udah lu terusin chattingnya, nanti gue tunggu lue di pinggir Nil” ancamnya sejurus meninggalkan pintu kamar ke ruang tengah sholah el beit.
            “Jangan…jangan… lin! Tungguin.Iya aku sign out YM-ku nih”. Aku berlari mengejarnya. Mencomot tangannya. “Ya gitu doang marah kamu mah lin…tunguin ya..aku mandi bentar doang. 5 menit saja cukup” pintaku.
            “Oke sip, cepetan loh. Suasana sungai nil indah banget waktu senja” katanya. Aku mengambil handuk. Masuk ke kamar mandi. Mandi oray, istilah bahasa sunda kalau mandi cepat-cepat dan tidak sempurna proses pembersihan badannya.

Ulin, Naza dan Ical asyik berbincang di sholah rumah. Menunggu. Mereka adalah teman satu flat kontrakanku. Naza satu kamar dengan Ical. Naza sosok yang baik, tak pernah marah dan aktif di dunia Masisir – sebutan untuk mahasiswa Indonesia disini. Berasal dari Banjarmasin, terlihat dari muka dayaknya. Tapi aku benci dia, gara-gara talhisan yang dia berikan kemarin aku didiskualifikasi. Memang salahku tapi aku tetap ingin menyalahkannya. Coba kemarin dia tidak memberikannya padaku. Pasti semua itu tidak terjadi.

Satu lagi ical namanya. Orang yang sangat aku benci di flat. Tak usah aku deskrifsikan dia. Tapi tetap saja aku ingin menuliskan dia di catatan. Biar gak dapet dosa ghibah, daripada ngomongin dia ke orang lain. Orangnya pelit tapi belagu, sok-dewasa, sok-pintar, sok-berwibawa dan sok kuadrat lainnya. Perokok akut tapi tak pernah membeli, hanya menghabiskan rokok orang lain. Makan sehari 4 kali tapi tak pernah mau masak. Menghancurkan koneksi internet pantas mendapat  julukan “raja download” berbagai film padahal yang paling telat bayar uang kosan. Paling lama di kamar mandi. Dan paling kuadrat lainya dalam hal yang jelek tentunya, Kalau saja air di lautan menjadi tinta menuliskan keburukannya maka tak akan cukup. Mirisnya dia berasal dari Bandung. Tapi tabiatnya mengecewakanku sebagai satu konsulat Jawabarat. Aku selalu berbisik, “kok ada orang seperti ini sampai ke Mesir”.  

Jaket tebal, sarung tangan dan celana monyet-celana panjang dari cotton sebagai dalaman di musim dingin- lengkap aku pakai. Ulin dan Naza sudah siap berangkat. Aku menghampiri mereka di sholah. 

“cabut yuk” teriakku
“bentar fang, si ical lagi pergi meminjam sepatu dan kaoskaki ke rumah sandi” jawab Naza. “Bentar doank kok” lanjutnya. Memang jarak flat kami tak jauh dari flat sandi. Hanya dipisahkan satu imarah (gedung).
“Ah lagi-lagi dia”, gumamku kesal. Menambah kebencianku. Tapi kenapa Ulin dan Naza tidak benci kelakuannya. Sangat aneh. Malah mereka berdua ngajak ical ikut ke Nil lagi padahal aku tidak setuju dia merusak suasana.
“fang, ambil spidol dong” pinta ulin.
“buat apa?”.
“ambil aja, ntar lu tahu gan apa gunanya. Sangat bermanfaat kalau lagi jalan-jalan, gan” jelasnya membuatku penasaran.
“Ambil sendirilah, lu punya kaki nyuruh-nyuruh gue”.
“gue dah pake sepatu, lu tolongin gue napa, gan” bujuknya. Akhir-akhir ini memang si Ulin dapat kosakata baru. Setiap akhir kalimat ditambah kata “gan”. Kalau pola kalimat SPOK, K;Keterangan, maka olehnya pola itu dirubah menjadi SPO-gan atau sebagai S; Subjek , maka pola kalimat berubah menjadi Agan-POK. Setelah ku telusuri, ternyata akhir-akhir ini dia sering ngaskus. Buktinya sekarang dia memakai kaos hitam bertuliskan KASKUS-The Largest Community in Indonesia. Yang sangat tidak masuk akal, dia hanya memakai kaos itu tanpa jaket padahal cuaca dingin. Demi memamerkan kaos barunya.

Aku menyerah lalu mengambil spidol besar boardmarker di lemari Ulin. Aku berikan  spidol itu. Dia tersenyum puas. Entah apa yang hendak dia lakukan. Aku masih penasaran. Kami berbincang-bincang sejenak. Menunggu seseorang yang sangat tidak pantas untuk ditunggu. Arah jarum sudah menunjukkan angka 4. Setengah jam lebih kami menunggu. Entah ke belahan bumi mana dia pergi. Kami bertiga akhirnya pergi. Meninggalkan ical. Semua itu atas lobiku pada mereka. Kami berjalan menuju jalan raya sambil berbincang santai. Aku tersenyum puas sepanjang jalan berhasil menggagalkan ical pergi bersama. Cukup kejam. Tas kecil kuayun-ayunkan berisi kamera digital.

RAMSES, Yastho. RAMSES … RAMSES”, Naza berteriak sambil mengayunkan tangan menanyakan setiap sopir tramko yang berhasil ia stop. Berkali-kali. Gagal dan gagal. Kalaupun ada yang menuju ramses selalu penuh dengan penumpang. Ulin dan aku bergantian mengikuti kelakuan Naza. Tapi nihil.  Aneh, sulit mencari tramko kosong tujuan ramses sore ini padahal bukan weekend. Ini hari senin. Bukan kamis malam jum’at. Loh kok bukan satnight?, berbeda memang hari libur sekolah dan pemerintahan disini hari jum’at. Kesabaran hampir habis, akhirnya ada bus merah ke Ramses. Sangat penuh. Kami harus kembali bergelantungan dan berdesak-desakkan seperti pergi kuliah. Tujuan kami adalah stasiun Metro-kereta bawah tanah menuju sungai Nil. 

“kita pakai angkutan ke ramses, setelah itu cukup kita naik kereta bawah tanah menuju tahrir, jalan bentar, sampai deh di Nil” jelas Ulin dengan pongah sok-ngajarin. Aku terpaksa tunduk pada Ulin sebagai guide, karena dia sudah sering pergi ke Nil. Sedangkan aku baru sekali itupun memakai mobil sewaan teman. Jadi aku tak hapal jalur kendaraan umum.
Jalanan sore hari macet. Tak jauh berbeda dengan Jakarta. Butuh satu jam lebih untuk kami bertiga bergelantungan dalam bis. 

Sebuah bangunan tua bertuliskan Metro tampak. Akhirnya aku bisa bernafas bebas setelah tadi bernafas sesak. Sebuah lorong tangga menuju bawah tanah kami masuki.  Di anak tangga paling bawah agak gelap. Ulin mengomanda kami berdua berhenti. Dia mengeluarkan spidolnya. Menoleh sambil tersenyum mengernyit dahi ke atas seolah-olah akan melakukan tugas mulia. Dia berjongkok, tatapannya berputar mengawasi keadaan sekitar.

“Lo berdua berdiri di samping gue, tutupin gue” suruhnya.
“ngapain lo lin?” kami serentak bertanya heran dengan kelakuannya. Tapi kami patuh saja berdiri memblokade pandangan orang-orang yang lalu lalang.
“liat aja!” jawabnya membuka tutup spidol dan mulai berbuat konyol. Berbuat criminal menulis di dinding lorong metro itu. Gerakan tangannya cepat, tangkas dan tergesa-gesa.
“taraaaaaaa… syuf aho kuwayyis kida (lihat tuh keren kan) , ini jadi memori kita kalau kapan-kapan lo pada kesini lagi tangannya mengayun bak pesulap. Melonjak berdiri sedikit berlari. Menjauh. Terkekeh puas.
“ULIN – NAZA – IFANG – 24 Januari 2011” itulah tulisan dia. Kami mencondongkan muka ke tembok sejurus kemudian menoleh Ulin. Dan kami terbahak-bahak.
“aih, ada-ada saja kelakuannya” bisikku menyetujui ide cemerlangnya. Untung saja tak ada petugas galak disitu atau CCTV. Kami berlari mengejar Ulin. Tertawa mengacak-ngacak rambut ulin yang kribo.

Kami tiba di ruangan loket. Tapi kembali harus bersabar. Berdesak-desakkan dalam antrean panjang karena ini jam pulang kerja. Untungnya Naza yang ngantri bukan aku, karena dia yang kalah “aku gunting - dia kertas”. Sedangkan ulin lolos tanpa syarat. Karena katanya “aku sudah berjasa” membuat memoriam dengan spidol. Keuntungan satu lagi, yang antri yang bayar.

Naza menyembul dari tumpukan antrian. Tersenyum laksana pemenang . Mengibas-ngibaskan tangannya lengkap dengan tiket warna kuning. Aku raih tiket itu semangat. Pengalaman pertama naik Metro-kereta bawah tanah. 

Ulin dan Naza didepan memasukkan tiket ke dalam mesin “itu”  aku tak tahu istilah mesin penampung tiket itu agar pintu entry terbuka. Aku sebut mesin entry metro. Aku dibelakang mereka. Tersenyum girang ketika aku berhasil masuk setelah tiket dilahap mesin entry metro itu. Aku rogoh kamera untuk memotret suasana ruang  kereta bawah tanah. Kami berpose beberapa kali sambil menunggu kereta tiba. Seorang berbaret hitam dan berseragam putih berlari ke arah kami. Merampas kamera yang aku pegang.

“Haram ‘alaik akhdzu-shuar hina” dia melotot melarang kami memotret. Ternyata dia petugas keamanan metro.
“Ma’alays ya cabteinbihna musy ‘arif” wajahku melas menjulurkan tangan meminta kamera itu. Menjelaskan kami tidak tahu peraturan itu. Dia termenung berfikir. Akhirnya dia serahkan kamera itu setelah melihat raut muka kami yang pantas dikasihani. Dengan satu syarat, berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
“hufthh” hamper saja kena sita si kamera merah kesayanganku dari ibu. Kereta tiba, kami berlari menggapai pintu gerbong kedua. Berdesak-desakan kembali. Tak ada tempat duduk lagi. “ah selalu seperti itu” bisikku. Baru ditengah perjalanan ada beberapa kursi kosong. Kami pun duduk dengan rasa plong. Tak terasa kereta telah mencapai daerah tahrir. Kami pun keluar mengikuti Ulin yang tahu seluk beluk metro ini. Kembali aku berhadapan dengan mesin tiket itu. Aku meninggalkan tiket ketika masuk tadi. “ah siaaal”, aku tak tahu itu. Ulin berpandangan dengan Naza. Mereka berhasil keluar dengan selamat. Aku masih terpenjara.

Aku mengambil ancang-ancang. satu..dua…tiga..  aku berhasil memindahkan tubuhku dengan lompatan yang indah. Mesin pembatas itu ku lewati bak atlet loncat indah. Memang sih tingginya Cuma sebatas pinggang jadi gampang saja aku melewatinya. Sayangnya lompatan itu mendapat bad reward. Seorang penjaga berdiri menghampiriku. Aku termangu diam. Begitupun Ulin dan Naza. Suasana mendadak hening seketika. “aih malang nian nasibku”, fikirku melayang entah kemana. Aku bergerak mengikuti penjaga itu, Ulin dan Naza pun setia mendampingi. Menunjukkan solidaritasnya atau lebih tepatnya rasa belas kasihan bagi seorang pesakitan. 

Ruang sempit bertuliskan Maktab errayis –Head office menjadi ajang pengadilan kedua dalam dua hari berturut-turut. Aku dipidana menjadi penumpang gelap tanpa tiket. Padahal sudah aku jelaskan bahwa aku lupa mengambil tiket waktu entry. Saying seribu saying alibiku ditolak mentah mentah oleh sang jaksa keras kepala dan kejam. Denda sebesar 10 Le menjadi uang tebusan untuk menghirup udara bebas. Uang sebesar itu cukup untuk makan malam. “ah melayang begitu saja” teriak batinku. Ulin dan Naza memapahku bak pasien baru keluar dari ruang ICU. Ulin mencoba membuatku tertawa diluar lorong metro. “ayo kita beraksi lagi” dia mengeluarkan spidol kembali dengan komando yang sama. Aku tertawa lagi. “Ah dasar seorang sahabat memang tiada duanya” godaku menepuk pundaknya. Dia hanya tersipu bangga merasa dirinya sebagai sahabat terbaik dan memang demikian yang kurasa. Gelak tawa kembali pecah sedangkan Naza hanya mengikuti apa yang kami lakukan. Seorang pendiam memang tapi cukup baik setidaknya tidak seperti si ical.

Bundaran bertuliskan Tahrir Square – tugu kebebasan -  menjadi pertanda dan penunjuk arah ke Nile River waktu kami bertiga keluar dari stasiun Metro. Ada tiga jalur jalan yang harus kami pilih. Kami serahkan pilihan pada sang maestro; si Ulin. Kami pun dibawah komandonya mengikuti jalan yang dia pilih. Menyebrang ke sebelah timur. Lalu lalang kendaraan, trotoar apik dan ayunan dedaunan sekitar jalan menyaksikan tiga pemuda asing di negri orang mencari suasana sungai Nil. Mentari dari ufuk barat menyemburatkan sinar jingga. Senja yang indah berwarna kuning keemasan menyilaukan pandanganku. 

            “I-i-I tuu dua patung singa dan jembatan Nil” Naza berteriak sambil menunjuk tangan.
            “iyah gan. Kita sampai juga gan, hufth cukup melelahkan” jawab Ulin mengusap keningnya walaupun sebenarnya tak ada setetes keringatpun mengalir karena musim dingin.
Kami berlari menggapainya. Aku dengan cekatan merogoh kamera saku, mengabadikan senja di atas sungai Nil. Memotret berbagai sudut laksana fotografer handal yang diutus ke berbagai penjuru dunia. Naza memintaku memotret dia, “Untuk Profil Picture di Facebook”jelasnya. Ulin tak setuju, “eh za, mendingan kita foto bareng. Gak ada lo gak rame alias bareng-bareng lebih asik, gan” bantahnya. Sang Fotographer memutuskan mengambil foto Naza terlebih dahulu baru itu bareng-bareng sesuai keinginan Ulin. Sangat bijaksana. Haha. Tapi akhirnya ulin dan aku juga ikut-ikutan foto sendiri-sendiri setelah itu foto bersama. Beberapa pemuda-pemudi mesir menyapa kami. “ah kebetulan sekali, bisa kita manfaatkan dia” bisiku penuh dengan niat jahat pada Ulin. Ulin mengernyitkan dahi lalu menganggup menyungging senyum tanda setuju. Aku berikan kamera itu tepat di atas jembatan sungai Nil kepada pemuda itu meminta dia jadi korban eksploitasi. Dia mengangguk senang. Mungkin dia pemuda kampung yang jarang bertemu orang asing. Jahat sekali. Patung singa, jembatan berlatar gedung-gedung menjulang ditepi sungai Nil berhasil dilahap kilatan kameraku. Puas.

Kami berjalan kaki melewati jembatan ditemani sinar jingga senja hari. Beberapa sopir delman hitam nan antic menawari untuk naik delman. Kami menolaknya dengan berbagai alasan, padahal alasan utama adalah uang yang dikantong semakin menipis.  Hadiqah Jazirah ­sebuah taman ditepi sungai Nil pun kami lewatkan karena alasan yang sama yaitu financial. Kapal pesiar yang disulap menjadi restaurant tepat di bibir sungai nil tersenyum kepadaku melambaikan tangan menggodaku. Kalau saja ada uang sebesar 30 US Dollar pasti aku akan tergoda. Akhirnya perahu kayu sederhana dan murah-meriah full music dan tarian perut menjadi sasaran kami. Dengan uang sebesar 3 Le aku dan kawan-kawan mengitari sungai Nil walaupun hanya beberapa menit. Tapi sangat menyenangkan. Hanya satu yang kurang, aku tak bisa memotret si penari. Tak tahu kenapa. Sok-artis mungkin.

Adzan berkumandang sejurus dengan hilangnya senja berganti cahaya gemerlap lampu penerang jalan dan lampu warna-warni dari perahu-perahu sederhana itu. Menghasilkan perpaduan eksotis sungai Nil malam itu. Kami memutuskan menunaikan sholat magrib berjamaah di tepi sungai Nil bersama beberapa orang mesir. Sesuatu yang jarang kita saksikan di Indonesia. Sudah maklum di mesir, apabila datang waktu sholat; orang mesir menunaikan sholat beralaskan rumput dan tanah di taman, trotoar, depan restaurant dsb. 

Watak orang mesir memang sangat keras, nada bicaranya tinggi lebih tinggi dari orang medan, tak mau mengalah, keras kepala dan sangat kurang ajar bagi kita tapi kalau masalah ibadah mereka sangat ta’at. Mereka sangat dermawan dan sangat menghormati kaum perempuan. 

Malam yang sangat indah kami lewati. Menghapus semua penat yang telah kami lalu hari kemarin. Pulang dengan wajah sumringah bergurat cahaya gemerlap. Ketika tiba di flat, aku merasa bersalah dengan si ical tak ikut bersama kami. Maafkan aku kawan.

1 komentar:

Hidayah Nur mengatakan...

wah.. pngen bnget bs mnikmati kota cleopatra itu.. kapan ya....??

nice post...
kunjungi balik blog-ku yah di.. hidayah03.blogspot.com

Posting Komentar