Tulisanku

Jumat, 09 Desember 2011

Aku,, BJ Habibbie dan Amin Rais

6 Juni 2011
Setelah masa revolusi itu, dan Mesir seperti semula ujian pun tiba. Hari ini ujian lisan pertama aku hadapi. Empat mata kuliah sekaligus. Fokusku terpecah. Jadwal ujian bentrok dengan acara dialog bersama tokoh nasional. Aku ingin bertemu sang idola. Ya beliau ialah Ayahanda Habibie. Kabar kedatangan B.J. Habibie beserta Amien Rais sudah terdengar seantero Masisir(sebutan mahasiswa Indonesia di Mesir) selama sebulan lebih. Aku mengira kedatangan dua tokoh reformasi ini atas undangan KBRI Cairo. Eh ternyata dugaanku meleset. Kedatangannya atas undangan pemerintah Mesir dan Negara Timur Tengah. Dalam forum dialog bertajuk “Internasional Forum on Pathways of Democratic Transitions Internasional Experiences and Lessons Learned”. Ternyata Reformasi Indonesia 1998 masih melekat dibenak para tokoh politik Timur Tengah. Mereka ingin belajar bagaimana mengendalikan pemerintahan pasca reformasi dari dua tokoh Indonesia itu. Pertama dari Presiden waktu itu dan kedua dari tokoh utama reformasi. Tiba-tiba kebanggaanku membuncah menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
13081241421163693905
Habibie live in Jazeera. Sumber: Indonesian Embassy in Cairo
Jadwal ujianku jam 1 p.m CLT (waktu Cairo) selesainya tidak tentu. Sedangkan Acara dialog bersama sang jenius dijadwalkan selepas waktu ashar. Naas benar nomor ujianku 44. Sabar menunggu, takut, khawatir, gundah dan galau menari-nari bergantian di benakku. Semua itu karena ujian lisan dan takut tak bisa hadir di acara dialog itu karena jarak universitas sangat jauh butuh satu jam dari tempat dialog Azhar Conference Centre(ACC). Akhirnya adzan ashar berkumandang bertepatan dengan seleseinya ujian lisanku. Aku berpacu dengan waktu.
Tekan tombol play dan dengarkan!
Sholat Ashar di Mesjid Azhar-berlari ke halte bis Darrasah-menunggu setengah jam-naik bis berebutan-aku berdiri bergelantungan seperti biasa tak kebagian tempat duduk-bis meluncur ke daerah Nasr City-turun di daerah Hay Sadis, Elkhaleefa Street-Keringat bercucuran membuat kemeja putihku basah karena cuaca juga sangat panas waktu itu-naik tramko ke daerah Roba’ah el Adwiyyah-pukul 04.30 a.m tiba di seberang Azhar Conference Centre-menyelinap di kerumunan orang-Masuk ke auditorium-Penuh-aku berdiri-dan akhirnya aku melihat sosok mungil berotak raksasa.
Akhirnya aku melihat live sosok idola. Tulisan Indonesia Pasca Reformasi & Peran Lulusan Al-Azhar- Prof.Dr. Ing. BJ. Habibie terpampang di spanduk tepat di atas singgasana si jenius bersanding dengan pak Dubes. Alhamdulillah acara baru beberapa menit dimulai ketika aku datang. Seisi ruangan penuh aku hanya bisa berdiri di deretan paling belakang. Aku keluarkan note kecilku dan mulai menulis.
13081180852141538795
BJ Habibie bersama Pak fachir Dubes RI untuk Mesir
13081182021914855635
Spanduk Acara Dialog
Layar besar menampilkan pesawat hasil anak karya anak bangsa. Decak kagum penonton dibarengi tepuk tangan meriah. Hal yang ada di benak mereka mungkin sama denganku, bangga akan bangsa Indonesia. Pembicaraan dimulai dengan pesawat CN235 yang beliau tumpangi dari Jerman menuju Mesir. Pesawat pribadi. Lalu menceritakan rumah beliau di Jerman yang berlantai enam, tiga lantai di atas tanah dan tiga lantai bawah tanah. “Karena hobi saya berenang maka dirumah saya ada kolam renang yang berada di lantai tiga bawah tanah” kata Habibie. Sontak peserta tertawa sekaligus kagum. Hebat sekali bapak kita yang satu ini. Aku bahkan belum bisa membayangkan kolam renang bawah tanah apalagi memilikinya. Beliau menambahkan”dengan ilmu kalian bisa mendapatkan apa saja!” nada suaranya lantang. Semangatku terpompa, apalagi sekarang momen ujian.
Di usia beliau yang memasuki 75 beliau masih bersemangat, masih ceria seperti dulu kala. Lalu beliau bercerita ketika Mesir bertanya; “Bisakah 2020 Mesir maju dan bagaimana caranya?”. Beliau menjawab: Bisa, caranya pertahankan SDM dan kembangkan.
Meningkatkan SDM
Beliau melanjutkan pembicaraan setelah sejenak menyeruput air mineral di atas meja.
“Ada orang yang hidup dalam lingkungan yang sama, tetapi berbeda kualitas. Yang membedakan adalah apakah dia memiliki sinergi positif, ada 3 sinergi positif; Agama (imtaq), budaya dan ilmu pengetahuan“. Penjabarnnya adalah:
1. 1+1+1=3, itu menandakan orang yang normal dan biasa saja.
2. 1+1+1=3000, itulah orang yang berkualitas memiliki sinergi positif memadukan imtaq, budaya dan iptek.
3. 1+1+1= -35, itulah orang minus yang memiliki sinergi negatif.
Ketika dulu saya ditanya: apakah yang kamu pilih diantara imtaq dan iptek? saya menjawab tanpa berfikir lagi “saya memilih imtaq”, dengan imtaq itu akhirnya saya diberika Tuhan sekaligus ilmu pengetahuan yang dahsyat. Suatu momen di acara konferensi internasional organisasi para ilmuan saya sengaja duduk paling depan karena saya yakin akan ditanya. Dan memang benar saya ditanya dimanakah saya waktu organisasi ini didirikan. Saya menjawab bahwa waktu itu saya masih beliau sedang berada di kampung berbalutkan sarung dan mengaji.
Produktifitas Kerja
Acara dilanjutkan dengan dialog. Hal yang penting yang saya catat adalah tentang produktifitas.
Beliau menjadi orang yang produktif karena memiliki tiga sinergi positif di atas. Beliau adalah orang yang bekerja dalam satu jam sama dengan orang lain bekerja selama sebulan. Dunia ini sama, dimanapun kita berada tidak berbeda yang membedakan adalah sinergi positif itu.
Cinta Tanah Air
Pada tahun 1974, pada saat beliau berusia 38 tahun-sepuluh tahun setelah mendapatkan gelar Doktor- beliau diminta Presiden Soeharto berkarya di tanah air. Dikarenakan suatu ketika Soeharto ditantang Amerika yang berkata:”Indonesia tidak akan maju”. Akhirnya dia memanggil Habibie dan berkata:”kamu boleh minta apa saja asalkan jangan revolusi”. Akhirnya beliau pulang walaupun di Jerman sudah mendapatkan zona nyaman, dan berkarya untuk bangsa dan mampu membuktikan bahwa Indonesia mampu membuat pesawat terbang.
Lalu pembicaraan Habibie mengarah ke hadirin di ruangan, ” Anda mahasiswa sini, tugas anda adalah kembalilah ke tanah air dan yakinkan kebenaran kitab suci Al-Quran kepada masyarakat, dari semua segi ibadah juga ilmu pengetahuan di dalamnya”. Seluruh hadirin manggut-manggut mengamini perkataan beliau.
Kesetiaan
Pak Habibie bercerita tentang cinta di akhir acara. Cinta dan Kesetiaan akan seorang istri terhadap suami dan sebaliknya. Ketika dulu beliau dulu belajar maka ibu ainun membaca Al-Quran sehari satu juz, musik yang mengiringi beliau belajar iptek itu adalah Al-Quran. Dan Habibie pun menemani masa sulit ibu ainun sampai akhir hayatnya.
Acara berakhir pada pukul 8.3o p.m. Aku puas, hadirin melakukan standing ovation ketika beliau ber-uluk-salam. Akupun pulang beserta ribuan masisir.
Esok harinya Pak Habibie mengunjungi Wisma Nusantara, sebuah rumah indonesia di jantung kota Cairo yang didirikan pak Habibie. Mengobrol ringan serta melihat beberapa karya masisir yang berada di wisma. Dilanjutkan dengan foto bareng.
Akhirnya aku bisa menatap beliau langsung dua kali; satu jaraknya jauh dan kedua sangat dekat hanya berjarak beberapa meter saja.
13081235491823765015
Habibie di Wisma Nusantara. Sumber: Indonesian Embassy in Cairo
Bahagia dan kagum akan kejeniusan keramahan dan keceriaan beliau. Memotivasi seluruh mahasiswa Indonesia yang sedang ujian. Kenyataan lain yang sangat membuatku bahagia adalah tinggi dari bapak habibie sama denganku. Haha!!!. Akhirnya mulai detik ini aku tidak akan mengeluh lagi masalah tinggi badan.
1308124407580731674
Foto bareng bersama Idola Masisir. Sangat membanggakan.
Dialog dan Silaturahmi Bersama Amien Rais
Siapa yang mau melawatkan dialog dengan tokoh reformasi bangsa kita ini. Akupun dulu ketika kelas enam SD menyaksikan orasinya langsung bersama ayahku di depan gedung Sate Bandung. Acara bertempat di KBRI kawasan Garden City tanggal 08 Juni 2011. Acara dialog ini ternyata hanya terbatas untuk 300 orang. Aku tidak menghadiri acara ini karena terbatas dan juga bentrok dengan ujian tulis. Aku hanya mendengar cerita tentang dialog ini dari seorang teman yang menghadirinya.Dialog beliau menceritakan pengalaman reformasi Indonesia dan motivasi bagi mahasiswa disini untuk membawa oleh-oleh untuk tanah air ketika kembali. Pemuda adalah tonggak kemajuan bangsa. Amalkanlah ilmu untuk peningkatan SDM bangsa, karena tanpa pengamalan ilmu bagaikan pohon tak berbuah.

Pasar Mobil Jadi Ajang “Nobar” Anak Kairo

Kairo, 28 Mei 2011

Malam ini akan berlangsung pertandingan sepakbola paling dinanti-nantikan sepanjang tahun ini selain elclasico. Ya! Final liga champion antara Barcelona FC vs Manchester United. Pertaruhan gengsi kedua klub tersohor di jagat ini. Pertandingan terbaik.
Anak Kairo pun larut dalam euforia ini. Siapa yang mau melewatkan pertandingan sedahsyat ini kawan? ya! pastinya sangat disayangkan kalau terlewatkan. Anak Kairo disini meliputi pemuda Mesir, Mahasiswa Indonesia dan mahasiswa asing.
By the way dimanakah tempat favorit anak Kairo nobar? jawabannya adalah Suq es Sayaraat (pasar mobil). Sebuah lapangan besar serbaguna dan milik publik di tengah Nasr City, tempat penjualan mobil bekas di hari jum’at dan minggu. Sedangkan hari biasa merupakan lapangan gratis untuk bermain bola. Lapangan besar beraspal itu pada sore hari selain jumat dan minggu terkotak-kotak oleh gawang-gawang yang dibuat masing-masing kesebelasan pemain bola sok-profesional. Mahasiswa Indonesia, kulit hitam afrika dan pemuda Mesir ramai tumpah ruah setiap sore.
Musim panas tiba seperti sekarang, lapangan ini disulap menjadi kafe pada malam hari. Dua kafe besar outdoor dilengkapi dua layar besar dan deretan bangku plastik. Tempat favorit  melepas penat dengan minum teh, makan dan tentunya menyeruput sisha. Tempat yang cocok di musim panas menhirup udara sejuk yang hanya terasa pada malam hari. Ajang kumpul keluarga atau sekedar ngobrol-ngobrol ringan dan nonton bareng.
Nah kalau ada Big Match, Pasar Mobil dipastikan penuh. Menjadi ajang nobar Anak Kairo. Layar LCD bertambah menjadi empat dan bangku berderet rapih. Ratusan orang berkumpul di depan empat layar ini. Ada si hitam, si putih, si arab dan tentunya mahasiswa Indo. Dengan hanya bermodalkan 2 pounds(sekitar 3000 rupiah) untuk bayar nonton saja dan minuman yang rata-rata berkisar 3 pounds, kita dapat menonton dengan puas. Malam ini dipastikan Suq es-Sayarah penuh. Kalau tidak mau kehabisan tempat duduk kita harus datang setengah jam sebelum kick off dimulai.Apalagi malam ini, pertandingan super akbar di penghujung tahun. Aku dan kawan-kawan pun tidak akan melewatkannya. Seakan tidak peduli minggu depan kami akan menghadapi ujian.

Kamis, 08 Desember 2011

Jelajah Kota Kairo Kuno - Keindahan Cleopatra Memudarkan Keangkuhan Fir’aun

Adzan shubuh telah menggema seantero kota Kairo dari corong-corong dan kubah mesjid yang sangat indah nan megah menyapa telingaku dan membangunkan ribuan sosok tubuh yang terbuai mimpi-entahlah itu mimpi indah atau buruk tak hirau aku- berkumandang dengan syahdu menandakan kedamaian kota Kairo yang memang beberapa bulan yang lalu bak kota mati, Aih kata-kataku ini macam Kang Abiq saja - padahal aku hanya pura-pura jadi sastrawan biar dikatakan tulisan ini mempunyai estetika tingkat tinggi- haha aku tertawa sambil menyungging sedikit senyuman ditemani segelas kopi panas yang aku seduh setelah sholat shubuh tadi dengan dua sendok madu.
Tak sampai 10 menit minuman yang mengisi gelas hadiah ulangtahunku - perayaan ultah pertama di Kairo - kopi itu ludes dilahap bertubi-tubi oleh bibir, lidah, tenggorakan dan kelompok geng mereka. Ku langkahkan kaki menuruni tangga flat yang seakan tersenyum riang menikmati kebebasannya setelah menjadi saksi bisu revolusi menggulingkan presiden Husni Mubarak, krubuk blekbek itulah sapaan dari perutku yang keroncongan pada pagi nan sejuk dan damai sehingga niat awalku melangkah adalah membeli tho'miyyah bil-baidh bi isy syami - makanan khas mesir terdiri dari isy(roti gandum), tho'miyah(sejenis gorengan dengan bahan dasar terigu berwarna hijau) dan telor rebus dilengkapi salad dan mayonaise- dengan harga 1,5 pound sekitar Rp.2000 aku mendapatkannya, cukup mengganjal perutku hingga lunch nanti siang.
Hari ini aku bersama teman-teman yang masih berdiam di Kairo setelah menjadi saksi tumbangnya rezim tua yang telah monopouse dan tua renta  pemerintahan mesir dan tidak ikut eksekusi - bahasa candaan teman-teman kairo dari kata evakuasi -  merencanakan menjelajahi peninggalan bersejarah masa kejayaan dinasti Umayyah, Abbasiyyah dan dinasti Islam lainnya melalui Tim Armada Jelajah yang telah mengumumkan rencana penjelajahan itu melalui grup di Facebook.
Ikpm Cabang Kairo

Assalamualaikum …. Bagaimana kabar antum semua teman teman IKPM Cab Kairo ?
Dalam kesempatan ini kami Keluarga Besar “ ARMADA JELAJAH IKPM Cab Kairo “ mengajak teman teman sekalian semua untuk menjelajah sebagian situs peninggalan pada masa kejayaan islam di mesir ini . yang insyallah akan kita adakan pada :


Hari : Rabu,16 Maret 2011

Tujuan : Gate of mangka Al-Silahdar
Start : Wikalah al Ghuri
Kumpul : Di seketariat IKPM Cab Kairo
Pukul : 09.00 Clt ( tepat )
Adapun Situs Situs yang akan kita kunjungi :
1. Wikala & madrasah of Al-Ghuri
2. Mosque of Muayyad
3. Bab Zuwayla
4. Mosque of Qijmas Al-Ishaqi
5. Sabil Kuttab of Yusuf Agha
6. Maridani Mosque
7. Hammam Of bashtak
8. Suq As-Silah
Atas perhatian nya kami ucapkan terimakasih
Nb : pembiayaan sendiri ( ngeteng )
Di persiapkan alat potret nya
Wassalam


Itulah pemberitahuan yang aku dan teman-teman serumah flat dapatkan.  Sontak aku girang dan fikiranku membayangkan gedung-gedung megah di zaman dulu ketika aku merencanakan ikut dalam jelajah ini. Setelah lama tak jalan-jalan, yah lumayanlah untuk mengobati kerinduan pada negri tropis diseberang samudera sana walaupun masih ada entah rasa kecewa, iri dan senang tapi tak tahu apalah karena masih berdiam di negri Fir'aun dan Clepatra ini, celotehku sembari tersenyum simpul.

Kami beserta rombongan sekitar 20 telah berkumpul di halte bus kawasan Nasr City seperti pemberitahuan tadi bahwa transportasi ngeteng maklum sajalah kawan mahasiswa rantau tak cukup isi dompet kami untuk  menyewa bis travel atau bahkan minibus. Berangkatlah kami menggunakan Bis produksi China berwarna merah menyala seakan menyala-nyala masih bersemangat menumbangkan rezim otoriter, bertuliskan angka 80 dicoret jurusanAz-zahra - Darrasah. Siang hari sekitar jam 11 kami sampai di daerah yang kami tuju dan aku bertemu dengan teman-teman fotografer IPSC - komunitas fotografer mahasiswa Kairo - yang ternyata telah datang terlebih dahulu dari kami.

Kami berjalan menapaki jalan kecil diawali dari pasar tradisonal dan diakhiri benteng nan megah Bab el-Zuwaylayang konon tempat paling angker dimasanya, masih nampak dari penglihatanku kewibawaannya, kebengisan, keangkuhan dan sorot tajam mata benteng ini menatapku. Ku lalui pasar Wikala dan gedung-gedung kuno nan artistik berderet rapi ditepi jalan seakan-akan aku berada dimasa keemasan Islam lengkap berpakaian ala Arab kuno menunggangi hewan padang pasir serta membayangkan aku berada dalam pembuatan film Kingdom of Heaven. Alah aku mulai memasuki khayalan tingkat tinggi. Udara hari ini memang sangat bersahabat karena kairo telah memasuki musim semi tak ubahnya cuaca di Indonesia sehingga kami dapat seenaknya saja menggagahi situs-situs bersejarah itu tanpa kedinginan atau kepanasan. Tibalah kami disebuah mesjid nan megah berdinding marmer berhiaskan kaligrafi emas dengan gerbang nan tinggi menjulang peninggalan dinasti Umayyah. Jeprat-jepret kamera berkilauan bertempur dan saling mengejar mengabadikan saksi sejarah ini bak fotografer media berburu memotret artis terpanas dalam pemberitaan. Selang beberapa menit adzan nan syahdu berkumandang di mesjid yang bernama Mosque el-Muayyad ini. Kamipun berbondong-bondong mengambil air wudhu  yang terletak di tengah-tengah masjid beratapkan langit. Midho'ah (tempat wudhu) berbentuk lingkaran berdinding marmer pula berbentuk seperti istana kecil. Sungguh indah bangunan di masa kejayaan Islam dulu tak aneh jika dulu Dinasti Islam menguasai peradaban dunia selama beberapa abad. Selesei sholat berjama'ah aku siap berfose ikut serta merasakan kemegahan mesjid ini. Kamu itu artis luar negri fan, kau mengalahkan artis sekaliber Tora Sudiro disini, berpose lah! teriak Vikar salahsatu anggota IPSC. Berposelah aku layaknya artis berjaket merah menyala bertuliskan Indonesia layaknya Irfan Bachdim.

Satu persatu gedung-gedung bersejarah sesuai rencana  telah kami lewati dari Wikala & madrasah of Al-Ghuri, Mosque of MuayyadMosque of Qijmas Al-Ishaqi, Sabil Kuttab of Yusuf Agha, Maridani Mosque, Hammam Of bashtak, Suq As-Silah diakhiri benteng megah memiliki dua menara tinggi nan kokoh memancarkan kewibawaan yaitu Bab el-Zuwayyla yang konon angker sebagai benteng pertahanan bagi musuh dan tempat penggantungan para pembangkang dinasti. Sosoknya memang angkuh benar benteng ini seakan tak ada lawan yang mampu melangkahi mayatnya  menaklukkan kota Kairo kuno. Dengan membayar 1 pound saja aku bisa memasuki benteng dan menara ini, ah "mata duitan juga ni benteng di zaman sekarang dengan hanya sebesar Rp.1500 kira-kira aku dapat menangklukanmu" godaku dalam hati. Kunaiki benteng berdinding warna kuning kecoklatan dari batu yang tak tahu apalah nama batu itu yang penting sangat indah dan kokoh, ratusan anak tangga menara ku taklukkan dengan lorong gelap tanpa cahaya dapat menembus.  "Rasakan kau irfan, kau fikir aku sudah tidak angker, kau fikir aku sudah tua renta dan jompo" mungkin begitulah dia mengataiku dengan pongkah sekaligus menanggapi sogakan tadi ketika ku menggodanya dengan membayar tiket masuk. Setelah beberapa abad aku dalam kegelapan, aku dapatkan setitik cahaya diujung menara, "kutaklukan kau wahai benteng ompong", candaku. Di atas menara berdiameter 5 meter dan tinggi kurang lebih 50 meter aku berdiri melihat kota Kairo yang sangat eksotis dibatasi beberapa pegunungan coklat tak berpohon.

Itulah puncak kepuasan batinku menjelajahi kejayaan masa lalu Kairo diakhiri dengan kemenanganku menaklukan kota kairo dan berdiri diatas menara angker bagaikan panglima perang merebut kota Kairo. Hari ini kejenuhanku terobati sudah setelah beribu-ribu detik ku berselancar  di kota Kairo Kuno. ” Bayangkan Boi, kita anak udik menaklukkan Kairo”mungkin itulah kata sang pemimpi Aray dan Ikal kalo seandainya mereka bersama kami hari ini.

Senin, 05 Desember 2011

Pengalaman di Dai Muda Pilihan

Pengen Curhat saja ini mah sambil berbagi.
Setiap sesuatu pasti ada hikmahnya, ketika saya dulu gak diberi kesempatan evakuasi tatkala Cairo rusuh. Saya memutuskan pulang Ramadhan kemarin. Dan ternyata itu sudah jalan Allah. Hikmahnya akhirnya saya diberi kesempatan nongol plus narsis dalam kebaikan di salahsatu stasiun TV swasta.
Dari 500 lebih audisi bandung Alhamdulillah saya masuk menjadi finalis perwakilan Bandung bersama Tsani Liziah di acara Dai Muda Pilihan. Kaget sekaligus bersyukur bahagia karena ini semua atas izin Allah.
1322018829102798793513220190931571336592

Selasa, 19 Juli 2011

Novel itu

Satu tahun enam bulan sudah aku berpijak di benua afrika yang gersang ini. Tepatnya di Mesir. Menyelami keindahan dan kebudayaan bumi kinanah ini merupakan berkah tak terhingga. Karena aku hanya orang udik di daerah pedalaman Sukabumi. Daerah Sagaranten tepatnya melewati daerah jampang kulon yang berjarak 70 km dari pusat kota. Selama di Mesir telah aku lalui suka dan duka. Menjadi saksi hidup pergolakan revolusi Mesir juga menjadi bumbu masa-masaku kini. Semua ini berawal dari  buku. Novel tetralogi karya Andrea Hirata sumber inspirasiku.

Sebelumnya aku tak pernah menoleh pada sebuah novel apalagi sampai khatam membaca. Tapi novel pertama Laskar Pelangi merubah segalanya. Aku khatamkan hanya dalam waktu sehari. Luar biasa. Aku membacanya penuh emosional dan ketagihan. Kadang aku berlinang airmata saat emosiku hanyut terbawa novel itu. Adakala juga aku terbahak melihat kekocakan tokoh-tokoh di dalamnya. Novel-novel selanjutnya aku lahap dalam tempo kurang dari satu minggu. Semua itu terjadi di awal tahun 2009. Saat liburan semester ganjil ketika aku masih kuliah di salahsatu perguruan tinggi negeri di Bandung mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Disela-sela liburan sahabatku meminjamkan novel-novel itu. Perubahan besar menjadi berkah bagiku. Antusiasku terhadap berbagai jenis buku meningkat tajam. Novel itu laksana obat penambah selera makan saja. Rasa pesimis berbalik menjadi optimis. Aku mulai berani kembali untuk bermimpi. Setelah dua tahun aku mengubur mimpi-mimpiku, karena beberapa kegagalan.

Tahun 2006 aku memperoleh kelulusan dari salah satu SMA Islamic Boarding School di Jawa Timur dengan hasilexcellent. Waktu itu aku bermimpi berkuliah di luarnegeri. Karena basic pendidikan Islam maka aku memutuskan ikut ujian ke Mesir. Hasilnya aku gagal. Tahun 2007 aku kembali meng-apply persyaratan kuliah di luar. Kali ini aku memilih Ekonomi Islam di IIUM Malaysia. Karena ada rekan ayahku disana sedang menyelesainkan program doktoral. Aku kembali gagal. Akhirnya bendera putih berkibaran. Aku menyerah kuliah abroad. Bandung menjadi pilihanku di tahun 2008. Aku melalui masa kuliah tanpa mimpi. Hanya mengerjakan rutinitas yang tak menantang dan hanya ingin mendapatkan nilai lalu memperoleh gelar Strata I. Lalu novel itu merubah segalanya. Aku kembali menata cita dan asa masa lalu.

Cita dan asa itu ialah SD di kampung, SMP di kota, SMA di luar provinsi dan kuliah di luar negeri.
Selama masa semangat itu, aku menjalani dua rutinitas; melanjutkan kuliah semester dua dengan sungguh-sungguh karena mungkin saja aku tidak lulus lagi dan mempersiapkan ujian ke Mesir. Tak terasa Ujian Akhir Semester telah selesai aku lalui dan masuk masa liburan. Fokus waktu itu terpusat kepada ujian Mesir.  Aku hafalkan Qur'an tiap hari. Aku asah bahasa Arabku di sebuah tempat kursus daerah Bandung Timur.  Aku ikut berbagai try out yang diadakan beberapa broker perantara pengiriman mahasiswa Timur Tengah. Selama sebulan lebih aku terkurung dalam aktifitas itu. Sangat membosankan. Tapi aku mengingat lagi kisah Andrea dalam novelnya. Aku kembali bersemangat.

Sebuah pengumuman di website departemen agama menyebutkan ujian diadakan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk daerah Jawabarat. Perjuanganku berakhir di sebuah auditorium UIN. Ujian diadakan satu hari. Pertama Ujian Tulis pada pagi hari dan ujian lisan siang hari. Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim aku masuki ruangan itu. Pada hari itu sudah penuh dengan ratusan pemuda pemudi yang ikut memperebutkan tiket kuliah di Mesir. Sedangkan di daerah lain masih terdapat ribuan orang mengais mimpi yang sama.

Hasil kelulusan ujian diumumkan sebulan setelah itu. Aku menunggu. Perkuliahan semester tiga dimulai dan harus registrasi ulang,  sedangkan pengumuman masih sekitar tiga minggu lagi. Atas saran ayah aku akhirnya membayar registrasi ulang. Selang beberapa hari nilai semua mata kuliah keluar. Aku heran sekaligus kaget. Dari semua mata kuliah hanya satu yang bernilai B selain itu A.  Padahal semester satu tak ada satupun nilai A aku peroleh. Semua ini karena novel itu pikirku. Antusias baca dan semangat kuncinya. Sepekan kemudian pengumuman DEPAG termuat di websitenya. Nama Muhammad Irfan tertera dalam daftar kelulusan. Akhirnya mimpi itu jadi kenyataan. Bahagia sekaligus bimbang. Bahagia karena lulus dan bimbang apakah aku harus meng-apply dokumen atau melanjutkan kuliah di Bandung yang sudah masuk semester 3. Sedangkan kalau aku berangkat ke Mesir beresiko memperoleh gelar sarjana lebih lama karena sudah dipastikan aku harus ikut kuliah persiapan bahasa selama satu tahun.

Setelah seminggu dalam kebimbangan aku teringat kata pak Balia dalam novel Sang Pemimpi: "Jelajahi kemegahan Eropa dan Afrika yang eksotis". Aku termotivasi kembali walaupun berbanding terbalik dengan kata pak Balia tadi. Aku menjelajah Afrika terlebih dahulu. Kemudian aku kembali bermimpi setelah selesei Sarjana akan aku jelajahi Eropa. Akhirnya aku memutuskan berangkat. Walaupun kemungkinan gelar sarjana kuraih 5 tahun lagi. "Kesempatan tak datang dua kali" tegasku.

Akhir desember aku berpamitan dengan kawan-kawan kuliah. Tepat ketika Ujian Akhir Semester ganjil. Mereka kaget sekaligus terharu karena selama ini aku tidak pernah memberitahu mereka. Semua dokumen telah lengkap dan tiket sudah di tangan. Tanggal 25 Desember 2009 akhirnya aku meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta menuju Cairo. Berpisah dengan keluarga untuk menggapai cita, asa dan mimpi.
Tahun 2010 aku mulai menjelajahi Mesir. Walaupun baru beberapa objek wisata yang telah aku dokumentasikan. Diantaranya Piramida, Pegunungan Sinai dan Oase Siwa berbatasan dengan Libya.


13060529631631477617

Selasa, 17 Mei 2011

Hari-hariku terpenjara di Kairo

Tanggal 24 Januari  2011
Hari kebebasanku, bagaimana enggak selama sebulan lebih aku disini memusatkan konsentrasi kepada buku-buku pelajaran untuk ujian term pertama di Universitas Al-Azhar yang sangat menguras fikiran dan energi.
Rasa sesak, kepenatan, stress dan beban hilang dengan selesainya masa-masa ujianku yang pertama di Universitas Al-Azhar.
Berbagai rencana menyenangkan sudah berkeliaran dalan fikiranku. Melepaskan penat dengan berlibur. Rute perjalanan telah ku susun rapi, yang masih saya ingat sampai sekarang :
1.      Rute pertama, Perjalanan ke Giza untuk mengunjungi Pyramid
2.      Rute kedua, Kota Mansouro ( salah satu tempat terjadinya perang Salib yang dipimpin Salahuddin el Ayyubi)
3.      Rute ketiga, Kota Thanta
4.      Rute keempat, Kota Zagazig
5.      Rute kelima,  menyelami keindahan Alexandria
Itulah rencana yang akan aku dan sahabat-sahabatku persiapkan lengkap dengan biaya, peta dan jalur transportasi yang harus dilalui.
* * *
Tanggal 25 Januari 2011,  
Terdengar kabar adanya kumpulan massa berdemontrasi di Tahrir.  Ketika itu aku berada di rumah teman kawasan Tagamu Awal – daerah kairo baru -  melepaskan penat membuat liga kecil  PES 2011 dan bermain kartu poker.  Esok harinya merupakan jadwal mingguan latihan basket di Nadi Central Zahro -salah satu lapangan basket sewaan yang menjadi tempat favorit mahasiswa Indonesia dikawasan Nasr City yang merupakan kawasan terbanyak yang menjadi tempat domisili mahasiswa Indonesia, sambil sesekali melepaskan gelak tawa dalam obrolan ketika berkumpul setelah latihan. Dan ternyata hari jum’at itu hari terakhir kami merasakan kebebasan dalam kota Cairo.
* * *
Tanggal 27 Januari 2011,
Aku tak menyangka demontrasi akan berlangsung terus-menerus dan meningkat.  Keamanan mulai tak terkendali, malam hari mulai mencekam dan jam malam mulai diberlakukan mulai jam 4 sore sampai jam 8 pagi, Inilah awal penjara bagiku. Koneksi internet diputus oleh pemerintah dan koneksi telepon pun ikut di bui.  Aku tak bisa melakukan kegiatan apa-apa dan tak bisa mendapatkan informasi dari Mesir ataupun keluarga di Indonesia.
Kebutuhan makanan sulit karena toko-toko banyak yang tutup, dan kalaupun buka hanya beberapa jam saja di siang hari mulai jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Itupun harus antri dan harga meningkat.Ditambah transportasi yang lumpuh total sehingga mahasiswa sulit untuk mencari informasi entah itu ke teman ataupun Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cairo.Mahasiswa tidak dapat mengambil uang di berbai ATM karena dirusak dan sebagian tutup sehingga menambah penderitaan kami yang kebetulan hal ini terjadi di bulan tua.
Kehidupanku terkotak di dalam sebuah rumah yang terdiri dari 2 kamar, dapur, kamar mandi dan ruang tamu yang dihuni 4 orang mahasiswa Indonesia. Aku, Naza, Ulin dan Ical.
Sesekali aku keluar rumah pada siang hari untuk membeli kebutuhan pangan. Udara dingin Cairo dan suasana mencekam kurasakan ketika hentakan kaki pertama dari ambang pintu rumah kontrakanku.
Pemandangan pertama yang kulihat adalah beberapa pemuda membawa tongkat besi, pisau, pedang, samurai bahkan senjata api. Siapa yang tidak takut dengan pemandangan seperti ini?  sesekali ku pandangi wajah mereka tapi ketika mereka memalingkan wajah ke arahku, ku palingkan wajahku secepat mungkin diiringi getaran ketakutan di dada.
Ku lihat suasana kota mati di wilayah rumahku yaitu Mahattah Gamie-Nasr City, yang pada hari-hari  sebelumnya merupakan kawasan ramai oleh warga yang berlalu lalang dan juga kawasan syuting Ketika Cinta Bertasbih I bagian scene ( Azzam naik taksi mengejar buku Anna Althofunnisa yang tertinggal di Bis dan ketika menabrak tomat di toko sayur) , itulah kawasan rumahku yang sebenarnya jauh dari pusat titik demonstrasi di kawasan Tahrir dan Ramses.
Ketika sampai di Thariq er Rayis (Jalan Raya; dalam bahasa Arab-Mesir) aku tak melihat lalu-lintas seperti biasanya,  padahal harusnya wilayah ini macet karena wilayah itu merupakan Syuq es Sayaroh(Pasar Mobil) yang merupakan pasar mobil terbesar di dunia (red.TVone).  Yang aku lihat hanya beberapa mobil pribadi dan Ugroh (Taxi) dan beberapa Iring-Iringan Tank baja El-Quwaah el Musalahah (Pasukan Bersenjata Mesir) di sisi lain. Itulah suasana yang terlihat di kawasanku ketika ku memberanikan diri keluar dari penjara padahal  hanya sebatas membeli pulsa dan makanan.
Suatu ketika aku  hendak membayar beberapa belanjaan ternyata uang yang ku genggam tidak cukup membeli barang-barang  yang ku inginkan padahal sebelumnya ku telah memperhitungkan jumlah keseluruhan belanjaanku itu, ternyata barang-barang mulai melambung.
Sebagai contoh harga Rasyid ay Kart (Pulsa) sebelumnya 10 Pound menjadi 12 Pound sekitar 20 ribu Rupiah. Harga rokok dan kebutuhan lainnya naik antara 25% - 50%.
Sejak hari itu kami seperti berada di wilayah perang, dan merasakan keadaan Indonesia ‘98 ketika reformasi penggulingan Soeharto yang memang sama seperti penguasa Mesir yaitu Hosni Mubarokyang berkuasa lebih dari 30 tahun, tapi ternyata disni lebih dan jauh sangat berbeda dengan Reformasi di Indonesia. Mungkin inilah perbedaan yang saya tahu;
* Kerusuhan disini lebih anarkis dan korban jatuh lebih dari 300 orang dan mungkin akan bertambah seiring bentrokan hari ini antara Kubu Pro Pemerintah dan Anti Pemerintah.
* Hosni Mubarok tak mengangkat wakil presiden selama masa pemerintahannya yang lebih dari 30 thn
* Transportasi dan komunikasi lumpuh
* Kerusuhan dan efeknya terjadi di seluruh Provinsi di Mesir secara merata tidak hanya berpusat di ibukota
* * *
Tanggal  02 Februari 2011, Harapan untuk keluar dari situasi dan penjara ini muncul dalam diri WNI di sini, senyuman dan ucap syukur menyebar diantara kami setelah dipastikan evakuasi dari pemerintah dan hari kemarin sebagian dari WNI telah berpulang ke negeri tercinta Indonesia. Proses evakuasi disini disusun secara prioritas agar tidak terjadi kesemrautan evakuasi dengan jumlah 6.149 orang yang di koordinasi oleh KBRI, PPMI(Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) beserta pengurus Kekeluargaan(Organisasi daerah mahasiswa Indonesia). Prioritas utama adalah wanita hamil dan udzur, anak-anak dan mahasiswi setelah proses evakuasi mereka selesei baru evakuasi selanjutnya untuk mahasiswa.
Hari ini kondisi Mesir semakin kritis, bentrokan fisik terjadi hampir di seluruh penjuru bumi kinanah antara 3 kubu yaitu demonstran pro-mubarok, anti-mubarok dan pasukan militer Mesir dalam bentrokan ini dilaporkan 5oo orang terluka dan satu orang tewas. Menurut Presiden PPMI(Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) yang berkoordinasi dengan KBRI menegaskan bahwa seluruh WNI akan segera dievakuasi menyusul kondisi stabilitas keamanan yang semakin kritis.
Tiga Posko koordinasi pengumpulan WNI berpusat di distrik Nasr City, yaitu di kantor KPMJB(Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat), Konsuler KBRI dan KSW (kekeluargaan Jawa Tengah). Sebagian mahasiwa membantu posko-posko tersebut. Evakuasi selanjutnya menurut rencana akan di laksanakan hari kamis esok.

Senin, 16 Mei 2011

Pesan Andrea dan Adam Smith untuk Indonesia


Sosok Andrea Hirata sebagai  salahsatu novelis terbaik saat ini sudah tak disangsikan lagi. Melalui novel tetraloginya yang berjudul Edensor dia menitipkan pesan untuk Indonesia. Pesan untuk kemajuan dalam bidang ekonomi sekaligus kritikan. Andrea membungkus pesan itu dengan kado yang sangat menarik.
Melalui percakapannya dengan Adam Smith, tepatnya foto ukuran 20R Adam Smith. Kegilaan Andrea yang merupakan kejeniusannya dalam bertutur kata di novelnya terlihat. Dia menitipkan pesan untuk Indonesia dalam dialog imajiner. Berikut ini cuplikan dialog yang Adam tuturkan kepada Andrea ketika Andrea menyatakan bahwa di Indonesia “banyak orang pintar, pintar mencuri uang negara”:
“Apa kataku dulu! apa kata teoriku dulu!benar kan, pengaruh uang tak ubahnya siulan iblis” Adam Smith melanjutkan penjelasannya.
“Kau tahu!? kaum monetarist bersekongkol mengumpulkan uang agar negara seperti kalian berutang, lalu pelan-pelan negeri kalian tergadai. Mereka itu tak ubahnya rentenir! Kolonial model baru! Tukang ijon! Teori mereka….. teori mereka.”
“Teori mereka? Pembangunan ekonomi berdasarkan moneter? omong kosong sama sekali! Keynesians itu turis dalam ilmu ekonomi, lebih cocok kalau mereka dimasukkan ke dalam sel! Uang semuanya uang! Lihatlah akibatnya pada pencuri uang di negerimu!
Adam Smith bersemangat dalam dialog itu, lalu ia meneruskan sedangkan Andrea hanya mengangguk takzim mendengarkannya.
“Proyek fisik! Lapangan kerja! Itulah solusi semua masalah!! selain itu hanya bualan.”

Apa yang dipaparkan Adam Smith sebagai pakar ekonomi sekaligus guru Andrea dalam dialog ini jelas sekali merupakan pemikiran Andrea yang memang belajar ekonomi di Sorbonne. Andrea berhasil menggambarkan situasi ekonomi dengan unik yang sedang melanda Indonesia, menganalisa akar masalahnya dan memberikan solusi. Dapat diambil kesimpulan dari pesan Andrea sebagai berikut:
  1. Indonesia salah mengambil kebijakan ekonomi dengan asas moneter, terbukti dulu bekerjasama dengan IMF.
  2. Asas moneter menimbulkan tindakan korupsi.
  3. Secara tidak sadar Indonesia masih dijajah kaum keynesians alias penganut asas moneter.
  4. Solusi dari masalah ini adalah pengembangan sektor Rill.
  5. Solusi lainnya adalah pembangunan fisik dan menciptkan lapangan kerja.
Andrea sangat cerdik mengirimkan berbagai pesan bagi para pembaca novelnya. Novel tetraloginya banyak memberikan pesan untuk bangsa selain yang terdapat diatas, dia banyak memberi inspirasi bagi anak Indonesia. Mengajarkan cara untuk meraih mimpi dan berjuang demi kemajuan bangsa yang terpuruk ini.

Jumat, 06 Mei 2011

Tahrir Square - Nile River





Catatan ke-2

Freedom

24 Januari 2011

Sinar mentari memantulkan cahaya bening keemasan. Hembusan angin bersyair syahdu nan merdu. Awan berarak tenang. Kicau burung bersautan membuat elegy indah. Sungai Nil mengalir lembut. Daun-daun melambai mesra.

Udara kebebasan memenuhi rongga dadaku hari ini. Walaupun kemarin hasilnya sad ending tapi aku puas. Setelah  satu bulan sesak dijejali rentetan huruf-huruf arab. Pusing. Jenuh. Membosankan. 

Aku hari ini bukan kemarin. Yang lalu biarlah berlalu, saran seorang pujangga. Namaku Muhammad Irfan Al-anshari , panggilanku ipang. Entah kenapa dan asal-muasalnya aku lupa. Mungkin karena aku berbakat menjadi vokalis. Aku hanya orang biasa saja dan masuk kalangan mayoritas bukan minoritas. Biasa belajar kalau ada ujian. Biasa menangis waktu sedih, tertawa ketika senang. Biasa mencontek waktu ujian tapi itu dulu masa SMP dan SMA. Biasa main game. Biasa menghabiskan uang kiriman orangtua. Biasa berjam-jam menyelami dunia maya. Biasa jail dan usil. Biasa pacaran. Biasa menyakiti dan disakiti.Biasa dipuji karena ketampananku, biasa dihina karena postur tubuh. Biasa dan bukan luar biasa. 

Sabtu, 30 April 2011

Perang Tinta


Panglima perang gagah nan perkasa menunggangi kuda tak henti-henti memimpin pasukannya. Menembus hawa panas mendidih bak lahar mengamuk dari rongga gunung merapi. Di tengah debu yang yang beterbangan dipelupuk mata. Aroma kematian menari-nari kejam dan bengis seakan dalam hitungan detik bisa merampas jiwa. Hunusan pedang merobek dada berkilauan laksana semburan percikan api. Bau amis darah tercium seketika. Padang pasir gersang nun tandus menjadi lautan merah berbau amis. Panas matahari melelehkan peluh. Membakar jiwa-jiwa patriot. Padang pasir menjadi saksi bisu sebuah war victory.

Jumat, 29 April 2011

The First just Love



Thanks ya Allah
Atas cinta yang kau berikan padanya dariku 
Kau menemukan tempat berlabuh dan berlayar denganku 
Disini ku denganmu 
Izinkan ku tuk berucap tulus  

Kau telah membuka biduk hati ini  
Selama ini ku selalu berpikir cinta itu salah 
Sekejap kau datang dan mengubah segalanya
Hanya untaian kata yang ingin ku katakan

Popular Posts

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages